Monday, February 4, 2019

DUNIA PARAREL

 "Lalu kubuat sebuah sketsa kecil,
Mesin menuju dunia pararel
Tunggu aku,
Jelajahi sisi lain ruang waktu,
Yang serupa namun tak sama..."
-Adhitia Sofyan-


Hanya malam biasa, dengan sahabat lama. Menyusuri jalan yang pernah kami lewati. Tapi kali ini terasa asing. Semakin jauh, hanya ada keinginan untuk bersembunyi dari putaran waktu yang semakin tidak terbendung. Preambule cerita masa kini pada akhirnya mengalir menuju hilir kisah usang yang dulu tidak sempat tersampaikan.

Ada kisah yang mengganggu. Mengusik tapi masih terasa asik. Membuat terusik, ingin menelisik apakah sebagian dari manusia diluar sana juga pernah merasakan hal yang sama. Tentang cerita jadul tanpa judul, atau seperti kisah yang tak pernah diceritakan.

Kami biarkan angin diantara gelapnya hutan menciumi tengkuk diantara mata yang masih awas menembus kabut didepan sana. Tanpa mengalihkan mata, cukup memasang telinga, dan mengijinkan mulut masing-masing kami bertutur bertukar kata. Tentang rasa. Memaksa kepala merogoh kantong-kantong ingatan yang ternyata masih ada ditempat yang mulai terlupakan.

Perlahan terbuka dengan sendirinya. Ternyata berbicara akan membantu kepala membuka laci dan menawarkan kunci lemari arsip dalam kepala. Kesimpulan jatuh pada betapa egoisnya kehidupan yang tanpa henti bermain dengan setiap peristiwa. Orang bijak disana bilang bahwa ada pembelajaran disetiap tahapannya. Buat kami cuma sebatas klise. Endingnya seringkali menyiksa dengan menanggalkan pertanyaan penuh tanda koma.

Rehat sejenak. Mencari cara agar malam tidak memanipulasi suasana yang semakin melankolis. Terkadang perlu berhenti sebentar saja. Untuk kembali sadar bahwa tidak ada aturan yang mengharuskan jalan terus lurus. Mungkin sesekali boleh permisi buat putar haluan, balik arah, atau mengajukan usul menelusuri jalan lainnya.

Tapi pada dasarnya, ini berujung pada hukum sebab akibat tentang keinginan yang semakin kuat buat bersembunyi dari kejaran waktu yang semakin terasa singkat.