dan ini adalah yang kedua kalinya dalam 3 bulan terakhir.
…
Saya suka anjing. Lebih tepatnya, ibu menularkan sifat ini kepada saya sedari kecil. Saya masih ingat ketika sekitar umur 3 tahunan, bapak saya pernah memukul anjing kami yang bandel. Saya juga masih ingat, anjing jantan itu berbulu putih. Dia meringkuk didepan kamar mandi setelah dipukul dengan keras oleh bapak. Dan selang 2 atau 3 hari kemudian, anjing jantan berbulu putih itu mati. Mati karena bapak terlalu keras menghukumnya.
Tapi ibu berbeda. Ibu sangat cinta dengan mahluk berkaki empat ini. Dan sekali lagi saya tegaskan; ini menular kepada saya. Entah berkah, entah kutukan. Rasa bahagia pada saat suara gongongan dan lompatan kecil yang menyambut tiap pulang kerumah, akan berganti menjadi kesedihan yang luar biasa ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa hewan yang konon kabarnya paling setia kepada manusia ini mati.
Sedari masa baru lulus SMA dulu, saya selalu mengidamkan untuk memiliki anjing jenis Golden Retriever. Ini berawal dari salah satu kawan saya yang borju tanpa sengaja memamerkan anjing Goldennya. Jaman itu, harga anjing Golden Retriever masih selangit untuk kantong saya. Maklum, saya bukan berasal dari keluarga yang berlebihan. Dan hari itu, saat itu, detik itu, saya langsung jatuh cinta pada anjing jenis ini.
Anjing yang kami perlihara sejauh ini selalu anjing kampung. Jangan salah, kualitas anjing kampung itu tidak selalu jelek loh.. terbukti beberapa anjing kampung yang saya perlihara sejak dari jaman SD sampai kuliah badannya tinggi, besar, dan berbulu lebat. Badan yang tinggi dan besar itu tergantung dari makanan yang diberikan. Kalo yang bulunya lebat, bukan karena saya rajin memandikannya (saya paling malas memandikan anjing), tapi karena faktor genetiknya (kalo lagi beruntung dapet bibit bulu gondrong).
Dan akhirnya, setelah punya penghasilan sendiri, serta setelah bertemu kembali dengan seorang kawan lama yang saat ini sudah menjadi dokter hewan dan punya kennel sendiri, saya mendapatkan anjing Golden Retriever saya yang pertama. Sesuai dengan mimpi dan cita-cita saya setelah beberapa taon lalu sempat nonton film “Marley and Me”, akhirnya dengan tegas dan mantap, dengan bangga saya namakan anjing Golden pertama saya: Bob Marley (dengan harapan yang besar bahwa arwah Bob Marley di alam sana memberkati anjing saya agar panjang umur..). Saat pertama kami bertemu, Bob Marley baru berumur 2,5 bulan. Namun, baru genap sebulan lebih berada dirumah, akhirnya virus distemper kembali memakan korban untuk yang kedua kalinya dirumah saya. Bob Marley meninggal setelah sempat opname selama 3 hari di klinik dokter hewan.Saya kembali menguatkan hati!
Kawan dokter hewan saya itu kemudian menyarankan untuk mengambil anjing Golden Retriever yang sudah berumur diatas 3 bulan agar vaksin sudah lengkap. Segera saya iya-kan. Dan perburuan kami pun kembali diulang dari awal. Hampir 2 bulan, akhirnya kawan dokter saya ini menghubungi dengan kabar gembira: ada anjing Golden Retriever umur 4 bulan, kualitas super, sudah stambum, dan vaksin lengkap. Begitu suara itu masuk ke telinga saya, otak langsung mengirimkan sinyal bahagia, kedua mata saya menangkap matahari yang bersinar lembut, kupu-kupu beterbangan melintasi pelangi diatas awan, dan angin berdesir sepo-sepoi… Sungguh hari yang indah untuk jiwa yang gelisah..
Hari itu perkenalan pertama saya dengan Bom-boM. Mata sipit, badan tegap, perut besar, bulu lebat. Dan yang paling menyenangkan, anjing ini pintar dan ramah. Tidak perlu waktu lama, saya langsung menemukan kemiripan diantara kami: doyan makan! Kami segera menjadi soulmate. Satu kebiasaannya yang saya suka adalah saat dia langsung melompat ke badan motor matic saya setiap kali saya akan pergi. Meskipun pada awalnya Bom-boM kesusahan untuk menempatkan posisi badannya saat saya ajak berkendara, namun pada akhirnya, dia mampu beradaptasi dengan singkat dan ketagihan buat jalan-jalan.
Namun, terlepas dari semua itu, satu hal yang paling membuat saya bahagia adalah kehadiran Bom-boM yang mampu memberikan hiburan tersendiri buat ibu. Betapa tidak, mulai dari dapur, ke depan, ke belakang, ke kamar, dan kemanapun di areal rumah, Bom-boM selalu menemani ibu saya. Dan apapun makanannya, ibu selalu berbagi dengan Bom-boM. Melihat senyum dan tawa kecil ibu hasil dari tingkah Bom-boM selalu otomatis melelehkan hati saya.
Dan kemarin, belum tepat pukul 8 pagi, ibu berteriak memanggil saya yang masih melipat badan didalam selimut. Alhasil membuat saya bangun dengan tidak sempurna. Bom-boM ditemukan muntah berbuih. Tanpa pikir panjang, saya segera memacu motor untuk menjemput kawan dokter hewan. Hasil diagnosa: keracunan! Berbagai ekspektasi bermunculan, hanya saja tidak ada yang akurat, mengingat bahwa Bom-boM bukan tipe anjing yang suka mengais sampah, tidak keluyuran ke luar rumah, ga doyan ama tikus, dan yang paling penting: dia bukan tipe yang akan memakan benda-benda yang officially bukan makanan yang diperuntukkan untuknya. Dua kali suntikan, dua botol obat, dan dua botol alcohol penurun demam, pada akhirnya tidak mampu memperpanjang umur Bom-boM.
Praktis kali ini hati saya tidak kuat lagi..
…
Sudah dua hari ini perasaan saya tidak menentu. Bisa saja secara underestimate menyebut saya terlalu melankolis, tapi sungguh, saya sungguh merasa kehilangan. Menemukan satu sosok yang akan mengerti diri kita, menemani kita, menyapa tiap kali kita sampai dirumah, menengok dari luar pintu kamar dengan mata lugunya, dan dia melakukan itu semua tanpa mengharapkan balasan apapun..Yah, pertemuan singkat yang harus diikhlaskan. Semoga Tuhan memberikan tempat yang layak untuk Marley dan Bom-boM disana! terbersit seandainya saja saya bisa melakukan hal yang sama seperti di film "Frankenweenie"!
“a dog is the only thing on earth that loves you more than you love yourself..”
-Josh Billings-
