Monday, October 19, 2015

PILGRIMAGE

each tear is a poet, a healer, a teacher
-Rune Lazuli-

Kembali menyempatkan diri menepi sejenak bersama gerombolan kawan-kawan baru. Kesibukan seperti berkorelasi positif dengan keinginan untuk melarikan diri dari sumpeknya kota dan cerita hiruk pikuk didalamnya. Mungkin itu yang mereka rasakan, yang alhasil membuat saya mendapatkan lagi gerombolan baru untuk sekedar melepaskan rasa lapar atas nostalgia dengan angin di alam bebas, dan memuaskan haus untuk menepi semalam diantara anggunnya danau dan angkuhnya jajaran pohon-pohon perkasa.

Masih sibuk memasukkan beberapa perlengkapan ke tas hitam merah kesayangan, satu pesan muncul di ponsel saya. Chat dari seorang sahabat yang besok pagi akan menyambut kelahiran putri sekaligus anak pertamanya. Saya tersenyum simpul, menarik nafas kecil, dan membalas singkat: “akan kusambut ia bersama sejuknya embun diatas danau dan semilir angin diantara hijaunya hutan..

Hitam dan putih yang selalu berdampingan. Seminggu sebelumnya, baru saja seorang rekan kerja kehilangan ayahnya akibat sakit mendadak. Sembari di perjalanan, kepala saya menciptakan sebuah pertanyaan, ketika seseorang kehilangan, ada orang lainnya yang menyambut kelahiran. Di utara sana seorang kawan menangis sedih, dan di ujung selatan, seorang sahabat menangis bahagia. Air mata selalu mampu menyisipkan cerita. Menjadi puisi, menjadi pelepas beban, dan menjadi guru tentang bagaimana hidup mengajarkan kita bukan dengan kata-kata.




Disini saya terduduk diam. Diantara ribuan bintang dilangit hitam, dan hangatnya api unggun yang tergeletak tidak jauh ditempat saya bersandar. Hanya di kegelapan kita mampu menyadari keindahan bintang-bintang diatas sana, dan hanya udara dingin yang mampu menyadarkan kita tentang hangat api. Semua saling mengisi. Namun seringkali tidak semua dari kita menyadari.



Setahun lalu, keponakan saya lahir. Anak pertama untuk kakak saya, keponakan pertama untuk saya, dan tentunya menjadi cucu pertama untuk ibu saya, serta cicit pertama untuk nenek saya. Alhasil, kelahirannya menjadi sebuah momen dimana ibu saya harus bolak-balik Denpasar-Jakarta untuk beberapa waktu. Pada satu kali perjalanan, ibu saya pernah berbagi tentang bagaimana repotnya mengurus bayi. Orang tua akan menjadi super sibuk, belum lagi anggota keluarga yang lain pun akan mulai disibukkan. Namun, semua kasih sayang yang diberikan belum tentu menjamin bahwa si anak akan mampu mengingat segala pengorbanan orang tuanya ketika beranjak dewasa.

Sempat teringat lirik lagu “Kasih Ibu” ciptaan SM Mochtar yang sering kita nyanyikan saat kecil dulu: “Kasih ibu, kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia”. Garis bawahi poin yang: “hanya memberi, tak harap kembali” dan biarkan maknanya mengelilingi kepala, logika, dan hati kita semua untuk memberikan jawaban……

Dan mungkin semua orang tua di muka bumi ini sudah menyadari hal tersebut

Di lain sisi, saya berujar menanggapi keluh kesah ibu saya bahwa disadari ataupun tidak, si anak yang lahir mungkin tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Yang meminta kelahiran atas seorang anak adalah orang tua nya. Jadi, mungkin itu bisa menjadi sebuah pembenaran bahwa orang tua memang harus bertanggung jawab sepenuhnya atas anak tersebut.

Yah, terlepas dari apapun itu, satu hal yang jelas bahwa cinta orang tua kepada anaknya tidak akan bisa dibalas 100%. Dengan kata lain, ketika kasih sayang tidak bisa terbalas sempurna kembali kepada orang tua, lanjutkanlah kasih tersebut ke generasi selanjutnya.



Lalu bagaimana dengan kematian?

Beberapa bulan setelah keluar dari gerbang putih-abu, kawan saya meninggal. Kami masih berumur sekitar 18 atau 19 tahun ketika itu. Kawan saya mengalami kecelakaan dekat tempat kuliahnya di luar kota. Satu hal yang membuat dada kiri saya menggedor keras ketika itu adalah fakta bahwa umur semuda itu sudah mengijinkan kami untuk mati. Tidak pernah terlintas di benak saya tentang kematian di usia muda. Tidak lama berselang, seorang sahabat terkasih juga meninggal akibat kanker.
Kita semua pasti pernah membayangkan tentang pernikahan, tentang kelahiran seorang anak, tentang skenario bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Tapi pernahkah kita membayangkan tentang kematian? Mungkin ada, tapi tidak semua.

Saya sendiri pernah membayangkan, jika boleh request, saya ingin untuk menghembuskan nafas terakhir diantara jingganya senja di hutan pinggir danau, atau di tepi pantai bermandikan indahnya sunset. Terdengar konyol tentunya, tapi yang menakutkan dari kematian adalah kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Berbeda dengan kelahiran. Kelahiran selalu disambut dengan sukacita, sesuatu yang ditunggu-tunggu, sesuatu yang diharapkan, dan sesuatu yang selalu berwarna cerah. Sedangkan kematian adalah kebalikan dari semua itu. Sama seperti halnya; semua orang ingin masuk surga, tapi tidak ada orang yang mau mati.

Rekan kerja saya, yang baru saja kehilangan ayahnya merupakan contoh kecil tentang cerita berjudul kematian. Kematian selalu meninggalkan rasa kehilangan. Kematian mungkin ibarat bab terakhir pada sebuah buku ataupun scene penutup dalam film. Entah apa istimewanya kematian, tapi ini memang akan dialami setiap mahluk yang bernafas. Melihat jenasah yang dibakar, atau dikubur membuat saya selalu membayangkan betapa kesepian orang yang meninggal di alam yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Apa yang mereka rasakan ketika ternyata faktor waktu akan menggerus ingatan orang-orang disekitar mereka atas kehadiran ataupun cerita yang pernah mereka tulis ketika hidup?

Kelahiran menciptakan sebuah cerita, dan kematian menutup cerita. Dan kabar buruknya, semua hanya masalah waktu.



Pertanyaan tentang kehidupan dan kematian tadi saya lemparkan satu persatu lewat merahnya api unggun, berharap terbawa asap hingga ujung langit gelap sana bersama cahaya bintang. Petikan lirik lagu “Rimba”-nya Navicula terngiang di kepala saya: “..hanya jiwa yang telanjang, didalam rimba yang tenang, yang mampu bedakan gelap terang”. Dan ditengah semua tanda tanya, terdengar bisikan lirih di sebelah saya: “bro, angkat gelasnya..


"death leaves a heartache no one can heal,
love leaves a memory no one can steal.."

Tuesday, June 16, 2015

OPINI DIBALIK WARUNG KOPI

What do you want?"
"Just coffee. Black - like my soul.
― Cassandra Clare


Ibu jari saya masih sibuk menekan tombol keyboard di smartphone ketika satu pesan BBM masuk mengganggu perhatian saya yang ketika itu sedang mencari info warung makan mana yang perlu disinggahi malam minggu besok. BBM itu mengantar pesan promosi dari salah seorang kenalan yang baru saja membuka warung kopi dengan sajian banyak varian minuman kopi, serta suguhan berbagai  makanan ringan pengecap lidah.

Rampung menyimak pesan promosi, dentingan nada alert dibarengi ajakan mencicipi tempat nongkrong baru di bilangan Renon - Denpasar masuk via LINE oleh seorang kawan yang langsung saya iya-kan. Meskipun sebenarnya saya lebih memilih untuk berbaring di kamar ditemani wi-fi, camilan, dan lamunan jorok yang belum sempat saya selesaikan menjadi sebuah cerita seri.



Dan disinilah saya, bersama sepiring sphagetty carbonara, segelas besar es susu cincau yang namanya dirubah ala Eropa, dan secangkir kopi yang judulnya masih sulit diucapkan buat lidah saya. Kemudian, yang menyenangkan adalah tempat ini dilengkapi dengan “gelato” (bahasa Italy buat es krim kayanya), menu yang  menyasar para penyuka es krim sebagai dessert. Memperhatikan atmosfer sekeliling, desain yang terkesan kasar, retro, sedikit vintage, dan berantakan malah menciptakan gambaran yang sederhana tapi elegan. Saya menebak segmen pengunjung berkisar antara mahasiswa, pekerja, dan keluarga muda, alias pasangan yang baru menikah ataupun yang anaknya masih dibawah 5 tahun. Tampilan fashion pengunjung pun (kecuali saya – I love shirt, short pants, and sandal jepit) terkesan modis dan up to date dengan trend saat ini.

Menjamurnya tempat tongkrongan terasa mulai setahun belakangan ini. Mayoritas melabeli diri dengan “kopi”; warung kopi, kedai kopi, tempat ngopi, dan lainnya. Mungkin terinspirasi oleh buku “Filosofi Kopi”-nya Dee yang terbit hampir satu dekade lalu (2006), atau mungkin karena insomnia menjadi sebuah tren gaya hidup bagi banyak orang hehehe..

Di Bali sendiri, seingat saya, selalu ada tren baru yang muncul dan kemudian terseleksi dengan sendirinya. Sama seperti saat akhir era 90an dimana café tenda tumbuh dimana-mana, awal 2000an warnet bermunculan hingga dipelosok gang, disambung dengan beberapa usaha lainnya seperti gerai handphone, distro, hingga laundry yang sempat ramai. Mirip juga dengan demam batu akik yang sedang populer belakangan ini, semua jenis tren pasti mengalami product life cycle dan seleksi alam, dimana yang kuat akan bertahan, dan yang lemah akan berguguran secara perlahan.

Jika ditarik kembali kebelakang, trend nongkrong sendiri bukan barang baru di Bali. Jangankan di Bali, di Indonesia dan di dunia pun terjadi perihal yang sama. Kalo dulu, jaman saya masih sekolah, café tenda merupakan pilihan nongkrong dan menjadi gaya hidup anak muda. Nasi Djinggo juga menjadi primadona sebagai tempat tongkrongan favorit kala itu. Murah dan meriah! Sambal yang menampar, ditambah telor setengah matang campur garam dan merica menjadi menu wajib. Selain itu, emperan Circle K sempat menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda. Cukup dengan sebotol beer (kadang lebih) dan kacang serta camilan lainnya layak sudah menjelma sebagai trend setter tongkrongan dijaman itu. Sayangnya pemerintah saat ini mulai membatasi ruang gerak para penikmat beer akibat generasi instant anak-anak lebay yang juga menjamur bergaya sok dewasa mengkonsumsi yang belum pantas dikonsumsi oleh mereka.

Dan saat ini, berkembang tempat tongkrongan dengan label kedai kopi ataupun sejenisnya.

...

Kira-kira apa saja faktor pemicu munculnya tren baru ini? Hasil opini pribadi saya merangkum ada 5 faktor utama yang memicu pergerakan revolusi kopi ini, antara lain:

1.  Meningkatnya penghasilan generasi sebelumnya
Generasi yang saya ceritakan di paragraph sebelumnya, saat ini sudah bertransformasi menjadi generasi yang telah memilki penghasilan sendiri. Mereka sudah tamat dari bangku sekolah ataupun bangku kuliah. Mereka sudah menginjakkan kaki di kuadran yang berbeda. Pekerja, pengusaha, ataupun investor. Mereka sudah memiliki penghasilan yang lebih dari sebelumnya, jadi wajar kalo selera dan level konsumsi barang-nya pun meningkat. Hal ini senada dengan prinsip elastisitas harga dalam fungsi permintaan secara ekonomi

2.    Narsis-isme media sosial
Ada 1 quote yang pernah saya temukan di 9gag.com, saya tidak ingat secara pasti bunyinya, tapi kurang lebih intinya mengatakan bahwa 100 tahun lagi, generasi 90an adalah generasi terakhir yang pernah merasakan hidup tanpa internet, smartphone dan media sosial. Kalo dipikir-pikir bener juga, dulu gada orang yang perlu pamer dengan foto-foto narsisnya sebagai bentuk laporan sedang liburan disana-sini, sedang kuliner di tempat mahal, ataupun check in di setiap tempat. Tapi saat ini, semua itu kita lakukan. Motivasi setiap orang melakukan hal itu pasti berbeda-beda. Yah, tidak perlu saya bahas satu persatu, tapi paling tidak hal ini juga yang memicu bahwa eksistensi seseorang dan status sosialnya juga dipengaruhi oleh tempat nongkrong-nya, sekedar untuk mendapatkan "like" atau menambah follower ataupun cukup dengan rasa bangga karena berhasil menciptakan perasaan cemburu orang lain yang melihat.


3.    Trend pergeseran lifestyle
Gaya hidup saat ini sudah mulai bergeser, meskipun tidak sepenuhnya, tapi sebagian besar sedang mengarah dari mass entertainment menjadi private entertainment. Kalo dulu orang-orang lebih menyukai tempat hiburan secara massal, saat ini orang-orang mulai menyukai tempat yang menawarkan privasi. Konsumen di era ini saat ini lebih mengkotakkan diri. Mereka menyukai menikmati sesuatu hanya dengan kelompoknya (gank). Itu kenapa yang namanya arisan, karaoke, hingga private party lebih disukai ketimbang tempat hiburan umum. Orang-orang memilih tempat dimana mereka dapat melewatkan banyak waktunya hanya dengan gank-nya, begitu juga dengan pilihan tempat nongkrong. Meskipun pada kenyataannya, banyak gank yang ketika sudah berkumpul malah lebih asyik dengan smartphone-nya ketimbang ngobrol hehehe.. Pokoknya yang penting udah selfie bareng, posting di medsos, setelah itu, ya sudah..

4.    Virus ke”galau”an
Entah kenapa generasi saat ini sangat ingin beranjak dewasa secara instant. Buat saya pribadi, masa remaja saya dulu sangat saya nikmati hasil dari pengaruh lagu mendiang Chrisye; “tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah”. Instant-nisasi generasi muda sekarang menghasilkan virus ke”galau”an yang entah mengapa berhasil menjangkiti banyak sekali orang yang selalu merasa bahwa permasalahan yang mereka alami harus selalu di-blow up sedramatis mungkin. Hasilnya? Insomnia akut, curhat di berbagai media, dan keinginan untuk “melarikan diri”. Lanjutannya: tempat nongkrong menjadi salah satu tujuan keluar dari rumah, berkumpul bersama gank, serta mencurahkan segala ke”galau”an mereka. Saya pernah membaca bahwa virus galau ini akan semakin terasa ketika matahari tenggelam. Peluang yang secara sadar atau tidak yang sudah dicermati oleh para pengusaha kedai kopi saat ini yang menawarkan jam buka operasional sampai dini hari.

5.    Edukasi pasar
Saya sendiri bukan pecinta kopi. Saya hanya sebatas penikmat kopi. Tapi lama kelamaan karena tempat nongkrong kebanyakan adalah tempat yang menawarkan kopi, mau tidak mau, lidah saya mulai bisa untuk membedakan racikan kopi yang satu dengan lainnya. Meskipun awalnya para konsumen hanya coba-coba ikutan tren, namun lama-kelamaan mereka mulai diedukasi oleh pasar untuk bisa lebih dari sekedar peminum kopi. Kopi tidak lagi hanya menjadi obat begadang, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup saat ini. Meskipun hanya sebatas opini pribadi, namun saya beranggapan bahwa tren kopi akhirnya berhasil mengedukasi konsumennya untuk menjadi bagian dari kehidupan mereka. Sama halnya seperti awal makanan asing yang masuk, seperti hamburger, pizza, ataupun kebab. Mengapa bukan teh? Mungkin kopi dianggap memiliki level yang lebih “menyiksa” diatas teh.



Menilik opini tersebut, saya menyimpulkan bahwa trend adalah sesuatu yang akan selalu berputar (pastinya). Bagi para pemasar, menjadi hal yang penting untuk dapat menebak pergeseran gaya hidup konsumen sebagai bagian dari perilaku konsumen, dan bagi pelaku usaha merupakan hal penting untuk bisa memprediksi, bahkan menciptakan suatu trend yang menjadi acuan bagi konsumen seiring dengan hal-hal yang mempengaruhi kehidupan konsumen sehari-hari.


Dan tidak terasa, tulisan ini bisa saya selesaikan dengan bantuan 3 cangkir kopi. Semoga ada manfaatnya. Have a great day!

Saturday, March 21, 2015

PERAYAAN NYEPI TAHUN INI


Ini Nyepi kedua dimana saya sepenuhnya sudah kembali pulang dan menetap di kampung halaman tercinta; Denpasar – Bali. Senang rasanya kembali bernostalgia melewatkan seminggu penuh rentetan menjelang peringatan hari raya Nyepi. Ada selentingan berkata bahwa menjadi Hindu Bali itu ribet, susah, dan repot, sangat berbeda dengan Hindu India. Yeah, memang ada perbedaannya, tapi menurut saya, ribet, susah, dan repot nya jadi terasa ketika banyak diantara kita yang tidak paham secara logika makna dari setiap rentetan upacaranya. Saya pun tidak sepenuhnya mengerti, tapi buat saya pribadi, dengan menjalani semua rentetan upacara itu, akan mengusik hati untuk mencari informasi disetiap esensi dari ritual yang dilewati. Tentunya akan menjadi cerita menarik yang hanya ada di Bali.

Yang unik dari semua rentetan upacara menyambut Nyepi, tentunya adalah malam sebelum Nyepi, atau biasa disebut dengan “Malam Pengerupukan”. Di kampung kelahiran saya, Pengerupukan sendiri lebih familiar dengan penyebutan “Megobog”. Hanya saja, bagi kebanyakan orang Bali, “Megobog” lebih dikenal dengan ritual kecil yang dilakukan saat matahari terbenam untuk membangunkan semua Bhuta Kala (roh jahat dan energi-energi negatif) menjelang “Malam Pengerupukan” dengan tujuan mengundang segala kekuatan negatif yang ada dilingkungan sekitar manusia untuk turut berpesta di Malam Pengerupukan dengan harapan bahwa setelah berpesta, mereka akan kelelahan dan beristirahat penuh pada keesokan harinya, yaitu pada saat hari raya Nyepi.

Itulah alasan kenapa pada saat Malam Pengerupukan dikenal sosok boneka raksasa yang disebut “Ogoh-Ogoh”. Ogoh-ogoh ini melambangkan wujud dari Bhuta Kala atau energi negatif yang ada disekitar manusia. Konsep dalam Hindu mengenal adanya “Tri Hita Karana” yang menjelaskan harmonisasi hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan lingkungan sekitar, termasuk dengan alam maupun energi-energi tak tampak disekitar manusia. Sehingga tidak heran pada saat Malam Pengerupukan semua energi dan sifat-sifat jahat yang ada di sekitar lingkungan manusia dibangunkan untuk turut serta berpesta agar keesokan harinya pada saat hari Nyepi, diharapkan tidak ada lagi hal-hal negatif yang menganggu jalannya “Tapa Catur Brata Penyepian”. Catur Brata Penyepian terdiri dari “Amati Geni” (tidak menyalakan api ataupun cahaya; inilah alasan kenapa dianjurkan untuk berpuasa karena tidak diperbolehkan menyalakan api untuk memasak, dan melewatkan malam dengan gelap gulita karena tidak diperkenankan menyalakan penerangan dalam bentuk apapun. Ini adalah momen yang tepat untuk mendongakkan kepala menikmati jajaran bintang yang terlihat jelas berbaris indah di langit diatas sana), “Amati Karya” (tidak melakukan pekerjaan apapun. Analoginya sama seperti penempatan hari Minggu pada penghujung setiap minggu dalam kalender; waktunya beristirahat! Begitu juga dengan tubuh manusia. Kelelahan bekerja dan melakukan banyak aktivitas dilepaskan dengan 1 hari total beristirahat), “Amati Lelungan” (tidak bepergian. Hal terbaik yang selalu saya rasakan, Nyepi menjadi ajang kumpul keluarga. Duduk bersama anggota keluarga, dan meng-update banyak cerita yang sebelumnya terlewatkan akibat sibuk beraktivitas, no place like home & you should enjoy your time while you still have one!), dan yang terakhir adalah “Amati Lelanguan” (tidak berbunyi-bunyian, atau bahasa mudahnya adalah tidak berisik! Kadang kita lupa bahwa Tuhan memberikan kita 1 mulut dan 2 telinga agar kita dapat lebih banyak mendengar daripada berbicara. Nyepi akan membawa kita kembali untuk mendengar suara alam. Kicauan burung, hembusan angin, bahkan gerakan daun pada ranting pohon. Suara sederhana yang kaya akan makna)

Bagi masyarakat Hindu di Bali pada khususnya, dan di seluruh Nusantara pada umumnya, Nyepi memberikan warna tersendiri, sama halnya dengan perayaan Natal bagi umat Kristiani ataupun Lebaran bagi umat Muslim, dan Imlek bagi kawan-kawan keturunan Cina di Indonesia. Meskipun miskin akan pemberitaan di media (maklum, kami kaum minoritas, masih diakui dengan tanggalan warna merah di kalender aja udah syukur banget!) namun bagi umat Hindu, hari Tahun Baru Caka merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu. Kemegahan terasa dari seminggu sebelum hari H. Hingga puncak keriuhan pada saat Malam Pengerupukan dimana Ogoh-Ogoh mulai turun ke jalan dan diarak sepanjang desa, beristirahat dan introspeksi diri melalui Tapa Catur Brata Penyepian, dan berakhir dengan membersihkan diri ke laut pada sehari setelah Nyepi, atau dikenal dengan Ngembak Geni.

...

Sepengalaman saya merantau, yang menarik adalah di Yogyakarta. Biasanya pagi hari saat Pengerupukan, semua umat akan berkumpul di Candi Prambanan. Persembahyangan dan fragmen Ogoh-Ogoh dilakukan di lapangan berlatar candi Hindu terbesar di Indonesia. Disambung pada Malam Pengerupukan, Ogoh-Ogoh akan diarak mengelili desa disekitar wilayah Pura. Beda lagi dengan Ibukota, di Jakarta, Ogoh-Ogoh diarak pada siang menjelang sore di Monas. Hingga pada malam hari biasanya dikolaborasikan dengan tari-tarian khas Bali yang tidak hanya ditarikan oleh anak-anak Hindu, tapi juga semua anak-anak beda agama yang tertarik untuk menarikan tarian Bali. Praktek Bhineka Tunggal Ika yang indah dalam realita sesungguhnya.

Tapi dari banyak cerita, ada hal-hal yang menurut saya sudah mulai bergeser pada ritual Malam Pengerupukan beberapa tahun belakangan ini, khususnya di Bali. Seperti misalnya yang paling norak dimata dan telinga saya adalah gamelan Bali yang terganti dengan alunan musik remix untuk mendampingi tarian para Ogoh-Ogoh dijalanan. Selain itu, “sanan” (sarana untuk mengangkat Ogoh-Ogoh yang terbuat dari bambu) pun mulai berganti fungsi karena diikatkan dengan gerobak beroda. Padahal jaman saya kecil hingga remaja dulu, judulnya adalah mengangkat dan mengarak Ogoh-Ogoh, tapi sekarang sudah berganti menjadi “mendorong” Ogoh-Ogoh. Akibatnya tarian Ogoh-Ogoh jauh dari esensi sakral, tidak ada lagi seni yang membuat taksu Ogoh-Ogoh menjadi hidup. Keringat yang mengucur pun hanya keringat sebatas berjalan dari ujung ke ujung desa, bukan keringat akibat mengangkat dan menarikan Ogoh-Ogoh.

"sanan" dengan gerobak beroda dilengkapi audio yang memutar musik remix
"MENDORONG" Ogoh-Ogoh; bukan lagi mengangkat dan mengarak Ogoh-Ogoh
tarian Ogoh-Ogoh yang mulai kehilangan esensi sakral dan seni 


Ada lagi yang berubah, bahan baku pembuatan Ogoh-Ogoh saat ini lebih banyak menggunakan styrofoam (gabus), bukan lagi anyaman bambu. Padahal efek pasca penggunaan styrofoam sangat tidak baik bagi lingkungan. Tapi untungnya, di Denpasar sendiri, pemerintah kota sudah mengeluarkan peraturan agar para pembuat Ogoh-Ogoh kembali menggunakan bambu sebagai bahan baku pembuatan Ogoh-Ogoh. Meskipun lebih sulit dan memakan banyak waktu, paling tidak dapat lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sesuai dengan konsep Tri  Hita Karana.
Kemudian yang terakhir, yang paling krusial menurut saya adalah penjualan Ogoh-Ogoh mini untuk anak-anak. Tidak dapat dipungkiri bahwa generasi muda saat ini semakin memperlihatkan eksistensinya sebagai generasi karbitan alias instant. Semua dapat terselesaikan dengan uang untuk membeli. Padahal esensi dan serunya dari perayaan Nyepi adalah persiapan dari beberapa bulan sebelumnya untuk membuat Ogoh-Ogoh. Mulai mencari lokasi, urunan membeli bahan, melewatkan waktu bersama kawan-kawan untuk merakit, merancang, memasang, hingga begadang menyaksikan Ogoh-Ogoh akhirnya dapat berdiri tegak menantang! Sejelek dan sehancur apapun hasilnya, tetap ada kebanggaan bahwa Ogoh-Ogoh tersebut adalah hasil karya sendiri, bukan sekedar membeli.

senyum anak-anak yang tidak sabar menunggu Malam Pengerupukan
Partisipasi anak-anak dalam pawai Ogoh-Ogoh


Yeah, apapun itu, yang penting bagi saya pribadi, ada rasa senang tiap kali menyambut datangnya hari raya Nyepi. Senang karena masih bisa berkeliling sekedar mendokumentasikan Ogoh-Ogoh di beberapa tempat, senang karena masih bisa berbagi banyak cerita dengan keluarga ketika hari raya Nyepi berlangsung, dan senang karena Bali masih memiliki tradisi yang menyediakan satu hari dalam setahun kepada bumi untuk bernafas tanpa polusi.

Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1937 untuk umat se-Dharma di seluruh Nusantara! Semoga Sathya, Prema, Dharma, dan Santhi selalu berotasi didalam pikiran, ucapan, dan perbuatan kita semuanya.


Ogoh-Ogoh dengan rupa Celuluk dengan ukuran besar di daerah Sumerta
Salah satu yang lumayan menyeramkan di seputaran Sanur
Saya selalu membayangkan lobster sebesar ini terhidang di meja makan
Salah satu yang unik tahun ini di sekitaran Sempidi
Ogoh-Ogoh dengan ukuran yang terbilang besar di Ubud
Kelompok studi dari salah satu universitas luar negeri dalam kunjungan ke Bali
Merahnya pas dengan analogi Krodha
Hasil karya yang rapi dan serasi
Besar dan sangar!

Perpaduan seni dan keindahan mitos didalamnya
Salah satu bentuk yang saya suka. Original dan seram!
Salah satu bentuk Durga yang terlihat agung namun mengerikan
Tulisannya: "Tante Brenda; cibhi-cibhi caplok kuluk". Entah siapa Tante Brenda ini..
Model Playboy yang tersamarkan..
Ogoh-Ogoh pun doyan Selfie
Yang terbesar dan terpanjang tahun ini yang saya temukan di Ketewel (panjang: 10m, lebar: 6m)