Monday, October 19, 2015

PILGRIMAGE

each tear is a poet, a healer, a teacher
-Rune Lazuli-

Kembali menyempatkan diri menepi sejenak bersama gerombolan kawan-kawan baru. Kesibukan seperti berkorelasi positif dengan keinginan untuk melarikan diri dari sumpeknya kota dan cerita hiruk pikuk didalamnya. Mungkin itu yang mereka rasakan, yang alhasil membuat saya mendapatkan lagi gerombolan baru untuk sekedar melepaskan rasa lapar atas nostalgia dengan angin di alam bebas, dan memuaskan haus untuk menepi semalam diantara anggunnya danau dan angkuhnya jajaran pohon-pohon perkasa.

Masih sibuk memasukkan beberapa perlengkapan ke tas hitam merah kesayangan, satu pesan muncul di ponsel saya. Chat dari seorang sahabat yang besok pagi akan menyambut kelahiran putri sekaligus anak pertamanya. Saya tersenyum simpul, menarik nafas kecil, dan membalas singkat: “akan kusambut ia bersama sejuknya embun diatas danau dan semilir angin diantara hijaunya hutan..

Hitam dan putih yang selalu berdampingan. Seminggu sebelumnya, baru saja seorang rekan kerja kehilangan ayahnya akibat sakit mendadak. Sembari di perjalanan, kepala saya menciptakan sebuah pertanyaan, ketika seseorang kehilangan, ada orang lainnya yang menyambut kelahiran. Di utara sana seorang kawan menangis sedih, dan di ujung selatan, seorang sahabat menangis bahagia. Air mata selalu mampu menyisipkan cerita. Menjadi puisi, menjadi pelepas beban, dan menjadi guru tentang bagaimana hidup mengajarkan kita bukan dengan kata-kata.




Disini saya terduduk diam. Diantara ribuan bintang dilangit hitam, dan hangatnya api unggun yang tergeletak tidak jauh ditempat saya bersandar. Hanya di kegelapan kita mampu menyadari keindahan bintang-bintang diatas sana, dan hanya udara dingin yang mampu menyadarkan kita tentang hangat api. Semua saling mengisi. Namun seringkali tidak semua dari kita menyadari.



Setahun lalu, keponakan saya lahir. Anak pertama untuk kakak saya, keponakan pertama untuk saya, dan tentunya menjadi cucu pertama untuk ibu saya, serta cicit pertama untuk nenek saya. Alhasil, kelahirannya menjadi sebuah momen dimana ibu saya harus bolak-balik Denpasar-Jakarta untuk beberapa waktu. Pada satu kali perjalanan, ibu saya pernah berbagi tentang bagaimana repotnya mengurus bayi. Orang tua akan menjadi super sibuk, belum lagi anggota keluarga yang lain pun akan mulai disibukkan. Namun, semua kasih sayang yang diberikan belum tentu menjamin bahwa si anak akan mampu mengingat segala pengorbanan orang tuanya ketika beranjak dewasa.

Sempat teringat lirik lagu “Kasih Ibu” ciptaan SM Mochtar yang sering kita nyanyikan saat kecil dulu: “Kasih ibu, kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia”. Garis bawahi poin yang: “hanya memberi, tak harap kembali” dan biarkan maknanya mengelilingi kepala, logika, dan hati kita semua untuk memberikan jawaban……

Dan mungkin semua orang tua di muka bumi ini sudah menyadari hal tersebut

Di lain sisi, saya berujar menanggapi keluh kesah ibu saya bahwa disadari ataupun tidak, si anak yang lahir mungkin tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Yang meminta kelahiran atas seorang anak adalah orang tua nya. Jadi, mungkin itu bisa menjadi sebuah pembenaran bahwa orang tua memang harus bertanggung jawab sepenuhnya atas anak tersebut.

Yah, terlepas dari apapun itu, satu hal yang jelas bahwa cinta orang tua kepada anaknya tidak akan bisa dibalas 100%. Dengan kata lain, ketika kasih sayang tidak bisa terbalas sempurna kembali kepada orang tua, lanjutkanlah kasih tersebut ke generasi selanjutnya.



Lalu bagaimana dengan kematian?

Beberapa bulan setelah keluar dari gerbang putih-abu, kawan saya meninggal. Kami masih berumur sekitar 18 atau 19 tahun ketika itu. Kawan saya mengalami kecelakaan dekat tempat kuliahnya di luar kota. Satu hal yang membuat dada kiri saya menggedor keras ketika itu adalah fakta bahwa umur semuda itu sudah mengijinkan kami untuk mati. Tidak pernah terlintas di benak saya tentang kematian di usia muda. Tidak lama berselang, seorang sahabat terkasih juga meninggal akibat kanker.
Kita semua pasti pernah membayangkan tentang pernikahan, tentang kelahiran seorang anak, tentang skenario bagaimana kehidupan seharusnya berjalan. Tapi pernahkah kita membayangkan tentang kematian? Mungkin ada, tapi tidak semua.

Saya sendiri pernah membayangkan, jika boleh request, saya ingin untuk menghembuskan nafas terakhir diantara jingganya senja di hutan pinggir danau, atau di tepi pantai bermandikan indahnya sunset. Terdengar konyol tentunya, tapi yang menakutkan dari kematian adalah kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Berbeda dengan kelahiran. Kelahiran selalu disambut dengan sukacita, sesuatu yang ditunggu-tunggu, sesuatu yang diharapkan, dan sesuatu yang selalu berwarna cerah. Sedangkan kematian adalah kebalikan dari semua itu. Sama seperti halnya; semua orang ingin masuk surga, tapi tidak ada orang yang mau mati.

Rekan kerja saya, yang baru saja kehilangan ayahnya merupakan contoh kecil tentang cerita berjudul kematian. Kematian selalu meninggalkan rasa kehilangan. Kematian mungkin ibarat bab terakhir pada sebuah buku ataupun scene penutup dalam film. Entah apa istimewanya kematian, tapi ini memang akan dialami setiap mahluk yang bernafas. Melihat jenasah yang dibakar, atau dikubur membuat saya selalu membayangkan betapa kesepian orang yang meninggal di alam yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Apa yang mereka rasakan ketika ternyata faktor waktu akan menggerus ingatan orang-orang disekitar mereka atas kehadiran ataupun cerita yang pernah mereka tulis ketika hidup?

Kelahiran menciptakan sebuah cerita, dan kematian menutup cerita. Dan kabar buruknya, semua hanya masalah waktu.



Pertanyaan tentang kehidupan dan kematian tadi saya lemparkan satu persatu lewat merahnya api unggun, berharap terbawa asap hingga ujung langit gelap sana bersama cahaya bintang. Petikan lirik lagu “Rimba”-nya Navicula terngiang di kepala saya: “..hanya jiwa yang telanjang, didalam rimba yang tenang, yang mampu bedakan gelap terang”. Dan ditengah semua tanda tanya, terdengar bisikan lirih di sebelah saya: “bro, angkat gelasnya..


"death leaves a heartache no one can heal,
love leaves a memory no one can steal.."

No comments:

Post a Comment