Saturday, November 15, 2014

SEFIROT



kenapa?

Alunan suara lembut menyadarkan saya atas lamunan yang sedari tadi memberikan visual tidak jelas dilayar buram dalam mata. Suara lembut seorang wanita yang selalu membuat saya merindukan tempat yang disebut rumah. Latar waktu siang hari, lengkap dengan lesunya sinar matahari menciptakan ilustrasi hangatnya kerutan di kening ibu saya yang sedari tadi ternyata memperhatikan badan tanpa roh dan tanpa suara. Tampaknya bukan mengkhawatirkan saya, tapi lebih pada status saya yang saat itu berperan sebagai supir hehehe..

September, Denpasar, kebetulan saat itu sehari setelah saya mendapatkan undangan sebagai pembicara di bekas kampus tercinta. Menjadi bagian dalam sebuah acara, apalagi berdiri didepan banyak orang, sok berorasi dan berbagi tentang sesuatu yang saya ketahui dan pernah alami adalah hal yang menyenangkan bagi saya. Tapi tidak untuk kali ini..

Mengunjungi beberapa tempat, bertemu dengan banyak orang, bertukar pikiran tentang banyak hal, dengan banyak kepala, dengan banyak kerangka dan pola pikir, dengan berbagai jenis manusia, dengan bermacam peristiwa, membuat saya semakin menyadari bahwa semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pertanyaan yang muncul. Menjadi sebuah lingkaran, menjadi sebuah tulisan bersambung, menjadi bab pengantar menuju bab lainnya, menjadi pintu koneksi ke ruang yang sebelumnya tidak pernah kita duga.

Kembali ke lamunan tadi, ada batu besar yang sebenarnya mengganjal bagi saya. Beberapa teman pernah berkata sebagai idealisme, tapi saya tidak yakin kalo itu adalah kosa kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Atau malah seorang kepala sekolah yang berjasa memborbardir kepala saya saat masih berseragam putih abu menyebut sifat saya dengan judul idealisme mati konyol.

Beri saya sedikit sisa paragraf lagi untuk mendeskripsikannya secara lebih konkret.
Jika berbicara dalam sudut manajemen, atau marketing, ada istilah yang bernama “product life cycle” yang secara garis besar, menyebutkan bahwa setiap merek, atau setiap produk memiliki siklus umur hidupnya. Dari awalnya launching, kemudian bertumbuhkembang, mengalami masa jayanya atau fase laris manis, dan kemudian akan mengalami masa penurunan. Dan biasanya, para marketer yang menyadari hal ini pastinya akan melakukan sesuatu untuk memperpanjang masa hidup produknya. Mulai dari strategi promosi atau menciptakan diversifikasi dan product extension atau malah melakukan peremajaan merek.

Bagaimana dengan hidup manusia?

Mari kita tarik secara umum gambaran dan paradigma kita saat ini. Jika boleh dan bisa saya simpulkan, human life cycle pada manusia adalah sebagai berikut: lahir, sekolah, bekerja, menikah, beranak pinak, pensiun, mati.

Thats it? Yup, thats it. Tentunya dengan berbagai macam bumbu dan cerita didalamnya. Ada yang salah? Tidak! Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi mari kita cermati. Alur yang seperti ini sudah turun temurun diajarkan, atau kalo boleh saya menyebut; di-propaganda oleh generasi yang lahir sebelum kita. “nak sekolah yang tinggi, biar bisa dapet kerjaan ditempat yang bagus, gaji gede, hidup enak, diliat calon mertua biar ga malu, bisa ngidupin pasangan hidup kamu..dan bla..bla..

Jika ditarik lebih panjang lagi, kita sedang bergumul dalam sebuah kotak, sebuah lingkaran, sebuah batasan yang tidak bisa dilanggar, tidak boleh dilewati, dan tidak boleh ditembus karena ada pagar bernama “normal” yang dilapisi duri berstempel “kewajaran” disana.

Ada seorang kawan yang terpaksa meninggalkan impiannya untuk menjadi rocker karena orang tuanya sudah bosan melihat bahwa apa yang dilakukannya tidak akan pernah menghasilkan uang. Membuat saya bertanya, uang bukan segalanya, tapi tanpa uang kita bukan apa-apa. Belum lagi kotak sensitive bernama SARA yang menjadi tembok pembatas bagi seorang saudara untuk mematikan rasa sayangnya kepada mahluk beda kelamin yang menjadi peneman di masa mudanya. Menciptakan pertanyaan besar dikepala saya, apa artinya tulisan bhineka tunggal ika yang tergantung di kaki patung garuda yang bergelantungan gagah di depan kelas sedari SD dulu. Ada lagi, kejadian seorang sahabat yang diusir oleh orang tua gadis yang dikencaninya akibat status ekonomi dan sosial yang timpang yang membuat saya meyakini alasan kenapa banyak orang menyukai film-film bioskop karena happy ending hanya bisa terjadi dalam film. Atau cerita tentang seorang kenalan yang membunuh mimpinya menjelajah dunia karena kewajiban sebagai seorang lelaki tunggal dalam keluarganya, menuliskan keraguan dalam pemikiran saya bahwa terkadang kebebasan bukanlah sebuah pilihan.

Dan yang paling sering saya temui bahwa begitu banyak kawan-kawan yang terjebak pada 4 hal; terjebak pada pekerjaan yang tidak ia sukai, namun harus dijalani akibat kewajiban atas tanggung jawab ataupun karena keberanian yang tenggelam pada zona nyaman. Kedua adalah terjebak pada kehidupan pernikahan yang memudarkan harapan untuk menikmati kebahagiaan, entah akibat menikahi orang yang salah, permintaan yang mendesak untuk menikah disebabkan umur, faktor keluarga, alasan ekonomi, ataupun kebablasan. Ketiga adalah kesempatan yang tidak kunjung datang untuk menciptakan momentum perubahan itu sendiri. Dan yang terakhir, kebanyakan dari kita, tidak lagi menemukan sisa-sisa nyali untuk melakukan perubahan karena dilingkari begitu banyak pertimbangan sebagai gambaran untung dan rugi, benar dan salah,
dalam mengambil tindakan.
Pemikiran yang klise mungkin. Karena hanya akan kembali menimbulkan pertanyaan lainnya; apa yang sebenarnya kita cari? Kehidupan sesuai dengan rumus baku “human life cycle”..??? atau mungkin secara iseng, kita bisa mulai mengganti pertanyaannya menjadi; “apakah saya bahagia? apa yang bisa membuat saya bahagia?

Tapi sayangnya, kadar bahagia menjadi sebuah ukuran yang tidak bisa distandarisasikan. Atau malah, karena tidak ada standar yang baku terhadap kebahagian manusia yang satu dengan yang lainnya itulah, maka dapat digunakan sebagai dasar dan pondasi bahwa kita memang tidak sama. Bahwa customize, menjadi berbeda, tidak biasa, adalah variabel yang dapat dipertimbangkan sebagai alat ukur yang wajar dan biasa. Dimana menjadi berbeda adalah hal yang biasa, dimana memilih hal-hal diluar pakem adalah sebuah kewajaran, dimana berjalan pada jalur yang tidak normal adalah sebuah kebebasan untuk menjadi bebas.

...

Dan sebelum tulisan klise dan tidak bermutu ini menjadi semakin buram dan mengambang, ada baiknya saya tutup dengan pertanyaan yang sering saya lontarkan kepada beberapa orang yang pernah saya temui; “apakah anda bahagia? Apakah anda sudah puas dengan kehidupan anda saat ini?” Tidak banyak yang bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan spontan. Terutama ketika saya bertanya kepada seorang lelaki didepan cermin.


Friday, September 5, 2014

REWIND


“stop.., right there where you stand, can we start again and write this book just one more time. Gone are the days that we used to know, when I thought that they all would last forever, and I see what you mean, when it all falls apart, nothing really seems to make it better..
-Swirl 360-



Akhirnya bisa sekedar kembali menyepi ditengah deretan deadline tugas, tumpukan kerjaan yang tidak pernah terlihat ujungnya, serta target pembuktian harga diri. Semua seperti roda. Untungnya, masih ada waktu untuk sekedar keluar dari arusnya, dan mengintip sesekali apa saja yang sedang berputar didalamnya. Nyaris sama dengan minuman keras, terkadang aliran waktu membuat kita lupa pada apa yang sudah berlalu hingga saat jackpot, tersadar bahwa semua sudah terlambat. Nikmat, dan terlambat!

Berbicara tentang waktu, beberapa periode lalu, saya kehilangan seorang sahabat yang menghilang begitu saja. Sempurna tanpa bekas, tanpa jejak, dan tanpa bisa dilacak. Ada juga sahabat lainnya yang sedari lima tahun belakangan ini, dimana perjumpaan kami hanya sekali setahun, tiba-tiba muncul membawa berita akan menikah dan menetap ke negeri seberang, yang otomatis menciptakan sebuah tembok besar bagi kami untuk dapat mengulang hal-hal gila di masa muda.

Unik dan menarik. Betapa aliran waktu dapat mengubah segalanya. Meskipun seringkali kita berharap bahwa hal-hal yang menyenangkan tidak akan pernah berakhir, atau hal-hal yang buruk segera berlalu, diminta ataupun tidak, waktu akan jalan terus.

Saya pernah merasa kehilangan. Semua orang pasti pernah. Kehilangan sahabat, kehilangan kawan untuk bercerita, kehilangan tempat untuk pulang, kehilangan binatang peliharaan, ataupun kehilangan kesempatan. Namun sayangnya, sedikit dari kita yang bisa menyadari bahwa hari itu, detik itu adalah saat terakhir untuk selamanya. Saya pernah mengunjungi satu tempat, tempat dimana saya dan beberapa orang sahabat lainnya berjanji untuk kembali mengunjungi tempat itu satu hari nanti. Dan tanpa kami sadari, hari dimana kami membuat janji, adalah hari terakhir kami bisa berada disana secara bersama-sama. Kenapa? Karena mungkin kami tidak mengetahui bahwa waktu dapat mengubah segalanya. Waktu mengubah salah satu dari kami membangun keluarga, waktu mengubah banyak dari kami untuk sibuk bekerja, waktu mengubah hampir semua dari kami untuk berpacu melawan umur sementara impian dan cita-cita tentang kebebasan belum pernah terwujud dalam bentuk yang absolute.

Seandainya kami tahu, mungkin hari itu, waktu itu, detik itu, kami tidak akan pernah berhenti melingkarkan tangan ditengah megahnya api unggun. Mungkin kami akan lebih meneguhkan hati dan menyiapkan mental bahwa hari itu adalah hari terakhir kami bisa menikmatinya. Mungkin banyak dari kita yang saat ini beruntung menemukan orang-orang yang kita butuhkan masih ada disaat pagi datang. Mungkin hampir semua dari kita masih dengan sempurna melihat cahaya matahari dengan dua mata. Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir kita bisa menikmatinya? Mungkin besok, semua berubah tanpa pemberitahuan.

Saya sering menuntut, bahwa setiap kenangan bisa diulang, mencari pendukung disana-sini untuk membuktikan hipotesa yang saya anut dapat terwujud. Namun pada satu titik, propoganda tersebut terpatahkan dengan segumpal kecil kamus EYD. Disana, saya temukan secara harfiah kata Kenangan; artinya untuk dikenang. Jika bisa diulang, namanya; ulangan. Dan kabar buruknya, ulangan hanya kita temui pada saat jaman sekolah dulu, persis ketika ibu guru masuk dan mengumumkan hari ini ulangan untuk menguji dan mengulang kembali daya ingat kita.

...

Selagi masih ada waktu, lari dan temui semua kesempatan yang sudah terbuang. Kegagalan sebanyak lima kali, akan menuai kesuksesan pada tahap yang keenam. Yeah, risiko gagal pasti ada, paling tidak, akan kita ketahui setelah mencoba, daripada tidak mencoba sama sekali. Kita tidak pernah tahu, kapan saat terakhir kita untuk tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir, kesempatan ini adalah kesempatan terakhir, pertemuan ini adalah pertemuan terakhir. Dan bisa saja, ini adalah tulisan terakhir yang bisa saya tulis dalam blog ini, mungkin saja, dan bisa saja terjadi seperti itu. Tapi satu yang pasti, waktu dapat mengubah banyak hal.

Selamat bermain dengan waktu!


"we only got 86.400 seconds in a day to turn it all around or to throw it all away. We gotta tell them that we love them while we got the chance to say, gotta live like we dying..!"
-The Script-
 Jakarta, Juli 2011

YOU ARE YOUR HISTORY

click
Handphone di tangan kanan, saya tutup dengan satu tarikan nafas panjang. Bulan diatas sana seperti kembali membukakan kotak hitam tentang banyak ingatan tanpa jawaban. Jika menarik kembali cerita dari beberapa tahun yang lalu, saya terlihat seperti orang yang baru saja menemukan hobi baru: LARI..! Bukan olahraga, tapi hobi melarikan diri. Ketika menghadapi kematian, kekalahan, dan kesakitan, hal yang sanggup saya lakukan hanya lari, karena ketika dada kiri saya mulai meremas, kabel yang tersambung dari hati menuju otak secara spontan memberikan sinyal bahwa saya harus lari. Sebab dengan terus berlari, kemungkinan rasa sakit tidak akan pernah mengejar, mendekati, apalagi terus bersemayam dalam diri.

Seorang kerabat dulu pernah berkata; “temukan setiap jawaban dengan hati. Namun ketika hati tidak mampu, maka waktu pasti bisa..”. Berpegang pada hal tersebut, saya semakin menemukan bahwa orang-orang terdekat seringkali bukanlah wadah yang tepat untuk mencari jawaban. Umur berkorelasi positif dengan tumpukan masalah. Terima kasih, karena memang hidup mengajarkanmu bukan dengan kata-kata. Sepertinya memang begitu cara kerjanya.

Akhirnya, puas berpikir sendiri tanpa jawaban, saya memutuskan untuk kembali ke meja kerja, padahal waktu saat itu sudah berputar hampir mendekati pukul 22.30. Begitulah yang saya lakukan. Membenamkan diri pada tumpukan-tumpukan pekerjaan untuk mengalihkan ingatan-ingatan liar yang tidak pernah lelah berkeliaran dikepala. Namun, begitu hendak berbelok memasuki ruang kerja, muncul rekan kerja baru yang belum saya kenal lama. Seorang anak band, dan dimata saya, dia murni playboy tanpa tampang berdosa.

Dan disinilah kami, duduk berbasa yang sudah basi. Berdialog tentang hal-hal yang renyah. Sampai tiba-tiba dia berbicara tentang sesuatu yang membuat saya diam; “hal yang paling menyakitkan bukan karena kita ditinggalkan atau meninggalkan. Namun ketika tidak bisa bersatu..”, kemudian dia bercerita tentang sejarah berkali-kali hubungannya kandas hanya karena masalah perbedaan, yang menyebabkannya mulai kebal dan tidak terlalu berpikir serius untuk memulai sebuah hubungan. Jalani saja, katanya. Meskipun alur dialog sebelumnya tidak ada mengarah kesana, tapi saya berusaha berperan menjadi seorang pendengar yang baik. Yeah, hitung-hitung bisa jadi bahan cerita buat bikin film pendek hehe..

Pagi, keesokan harinya, kebetulan saat itu, saya sedang tugas event musik. Sembari memastikan bahwa semua materi promosi dan tenaga penjualan sudah berada pada posisinya masing-masing, saya dijulurkan segelas air mineral oleh seorang pimpinan, dan itu artinya, saya harus duduk disebelahnya. Dialog dan cerita pun dimulai. Dan sekali lagi, saya masih berperan sebagai seorang pendengar yang baik. Preambule dimulai dari bagaimana pimpinan saya itu memulai kariernya benar-benar dari seorang kuli dan pekerja serabutan. Ia tidak pintar, namun dia selalu menunjukkan bahwa ada satu nilai yang bisa dia jual; kepercayaan dan niat untuk bekerja. Di mata saya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa orang dengan penampilan bajingan seperti dia pernah memiliki jaman susah! Seorang yang idealis, begundal yang masih mempunyai nilai baik dalam hatinya. Yeah, paling tidak orang-orang seperti ini lebih berharga dibandingkan para pejabat negara yang memanfaatkan uang rakyat dengan segudang kepintarannya.



Hingga kesimpulan sementara, saya menemukan bahwa seorang manusia terbentuk karena sejarahnya. Okay, saya bukan orang dari ilmu psikologi, dan mungkin hal seperti ini sudah secara umum diketahui. Namun ada garis tebal yang sebenarnya dapat kita hubungkan, dimana karakter seseorang di masa ini, di saat ini, sebagian besar (atau malah keseluruhan) terbentuk dari pengalaman-pengalaman hidup yang mereka dapatkan sebelumnya. Bagaimana mereka memandang hidup, bagaimana cara mereka menjalani hidup, sampai pada pilihan-pilihan hidup yang mereka pilih. Terlepas pada persoalan apakah mereka bangkit atau malah terperosot semakin dalam. Itu bebas. Setiap orang punya gaya sendiri untuk menentukan hidupnya.

Tapi, satu hal terpenting yang saya dapati adalah, terkadang, Tuhan mengirimkan jawaban melalui orang-orang yang tidak kita duga, mungkin bukan keluarga kita, mungkin bukan sahabat kita, namun orang-orang yang tidak pernah masuk dalam “daftar orang kepercayaan” kita. Bisa jadi, itu sebabnya bumi tidak diciptakan kotak, untuk mengajarkan bahwa dunia bergerak tanpa batas, dan setiap manusia yang diciptakan pasti ada gunanya.

Bisa jadi seperti itu, atau bisa jadi kepala saya yang sudah semakin rusak akibat virus-virus ingatan hehe..

Jakarta,  2011

Thursday, July 3, 2014

TOLERANSI, JATI DIRI DAN BUDAYA ORANG BALI

Entah sedari kapan saya mulai keranjingan internet. Mulai dari pemasangan wi-fi di rumah, langganan paket full internet di handphone, hingga seringkali masih sering maen ke warnet. Dan setelah terbangun dengan posisi tidak nyaman akibat mimpi buruk semalam, tidak tahu dari mana datangnya ilham, tiba-tiba hari ini saya ingin mulai untuk kembali membaca buku-buku yang tempo hari terbeli akibat impulse buying. Serius, banyak buku, dan semua masih tersegel.

Tibalah saya disini. Di pantai Sumawang – Sanur yang berjarak hanya 15 menit dari kampung kelahiran saya, ditemani kopi hangat dan seonggok jagung bakar plus tidak ketinggalan lumpia ala pantai di Bali, menjadi pelengkap sembari memuaskan mata oleh birunya laut dan tanpa sengaja menjadi saksi karamnya satu kapal nelayan ditengah sana (sungguh angin di musim layangan ini jadi berbahaya karena bertiup kencang sekali) serta irama gulungan ombak yang menenangkan telinga ditengah sumpeknya pemandangan kemacetan yang mulai merajalela seputaran Denpasar.

Matahari masih tinggi diatas sana, maksud saya tepat diatas kepala yang artinya sedang siang terik. Tapi tidak terasa panas karena banyak sekali warung sederhana dibawah pohon-pohon besar perindang yang menjual jajanan berjejer di pinggir pantai sehingga membuat teduh. Suasana yang tenang. Paling tidak dapat sedikit menghilangkan penat dikepala secara temporer.
jagungnya pake bumbu apa mas?
oh nggih, tyang pake bumbu pedes
Setengah tertegun, saya menjawab pedagang jagung bakar tadi dengan bahasa Bali campur Indonesia. Apalagi yang membuat saya tertegun kalau bukan karena dipanggil “mas”, bukan “bli”?! Tapi saya pikir mungkin karena para pedagang disana terbiasa melayani tamu-tamu domestik, sehingga mereka rata-rata menggunakan panggilan “mas” bagi setiap konsumen domestik yang melancong kesana. Dan ternyata dugaan saya salah!

Sambil menyeruput kopi hangat, dan baru saja membuka halaman buku yang saya bawa, telinga saya tersentil dengan obrolan para pedagang yang sibuk adu argumen tentang jagoannya masing-masing di pesta demokrasi pemilihan presiden seminggu lagi. Dan bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa. Tentu saya mengerti dan tahu benar bahwa itu bahasa Jawa. Meskipun tidak fasih berbahasa Jawa, tapi pengalaman 5 tahun merantau di tanah Jawa cukup membuat telinga saya pintar mendengar dan mengartikan bahasa Jawa. Awalnya saya pikir semua pedagang disana orang asli Bali. Ternyata tidak. Ah, jangankan di Sanur, coba saja tengok di sepanjang Bedugul  - Danau Beratan – Pura Ulun Danu, hampir semua pedagang bakso, jagung bakar, dan strawberry di pinggir jalan dan sekitar pasar adalah orang Jawa dan pendatang dari luar Bali.

Loh, ada yang salah? Oh tidak. Sama sekali tidak ada yang salah.

Bali kan dari dulu memang dikenal dengan keramahtamahan penduduknya, apalagi Bali merupakan destinasi wisata yang sudah tersohor sejak jaman dulu di dunia. Bahkan konon kabarnya banyak orang asing yang lebih “aware” dengan nama Bali ketimbang Indonesia. Jadi ya wajar saja kalau Bali menjadi sebuah wadah bercampurnya manusia dari mana saja. Bahkan saking nyamannya tinggal di Bali, beberapa kawan saya yang dulu sempat sekantor di Ibukota maupun kawan main di Jogja yang sempat melancong ke Bali seringkali menyatakan niatnya untuk tinggal dan hidup di Bali. Kata mereka Bali itu luar biasa menyenangkan. Ya alamnya, ya hiburannya, ya orangnya. Tentu saja saya sebagai orang Bali, yang diproduksi, lahir, tumbuh, besar, dan tinggal di Bali menjadi besar kepala mendengarnya.


Tapi itu dulu. Kalau sekarang, saya malah miris mendengarnya..



Beberapa tahun yang lalu, saya harus mengambil cuti karena nenek saya meninggal. Di dalam pesawat dari ibukota menuju Denpasar saya duduk bersebelahan dengan seorang bule yang mengaku dari Paris – Perancis. Rambutnya sudah penuh uban, kerutan dan keriput juga menghiasi wajahnya menandakan bahwa ia sudah malang melintang dengan pengalaman hidupnya, tapi setelan jas hitam berpadu jeans biru yang dikenakan berhasil menyamarkannya menjadi sedikit terlihat bergaya muda.
apa yang membawamu ke Bali, anak muda?
oh, nenek saya meninggal, jadi saya harus pulang untuk menghadiri upacara pemakaman beliau
kamu orang Bali?
iya pak, saya orang Bali. Kalau bapak ada acara apa ke Bali?
saya ada konferensi di Nusa Dua
oh, konferensi apa pak?
pembahasan kebijakan minyak antara beberapa negara penghasil dan pembeli minyak
wah, keren tuh.. Bapak sering ke Bali ya?
dulu iya.. dulu saya sering ke Bali. Terakhir tahun 1986
eh, udah lama banget donk pak. Koq jarang ke Bali lagi pak?
saya dulu suka Bali. Tapi sejak kunjungan yang terakhir, saya jadi benci Bali. Bali yang sekarang kotor, berantakan!
Saya terdiam. Bukan karena setuju, hanya saja saya tidak punya gambaran seperti apa Bali di tahun 1986 dan tahun-tahun sebelumnya karena tahun-tahun itu ingatan saya sebagai seorang manusia belum sempurna menampung memori. Tidak ada stok ide untuk menimpali ataupun membela diri. Tapi tanpa menunggu lama, beliau melanjutkan lagi.
kamu tahu kenapa kami, orang Eropa, suka ke Bali?
karena alamnya?
selain karena alamnya, kami suka ke Bali karena budaya dan orang Bali-nya. Coba kamu lihat Bali sekarang. Apa yang masih tersisa dari budaya dan orangnya? Kalian pikir kami ke Bali buat cari club? Diskotik? Kami ke Bali karena nilai unik yang hanya ada di Bali; budaya Bali dan orang Bali-nya sendiri sebagai objek wisata yang memang hanya ada di Bali.



Tapi apa benar kata beliau? Apa benar orang Bali sudah kehilangan budaya dan orang Bali-nya?

Beberapa waktu lalu, salah seorang kawan minta bantuan untuk menggarap iklan sebuah instansi pemerintahan. Butuh talent anak SMP. Kebetulan saya punya sepupu yang duduk di kelas 1 SMP. Jadi langsung saja saya menghubunginya untuk mengatur jadwal shoting 2 hari lagi. Saat itu sedang masa ulangan umum, jadi adik saya akan segera mengabari lagi sekiranya jika bisa mengatur jadwal belajar. Keesokan harinya, kembali saya menghubunginya. Kurang lebih begini percakapan kami:
gimana? Besok jadi bisa ikut bantu shoting iklan kan? Besok bli jemput sepulang sekolah
aduh, maap bli, ga jadi bisa. Soalnya harus belajar buat besoknya. Besoknya itu ulangannya susah
oh gitu, emangnya ulangan apa? Matematika?
engga’ bli, bahasa Bali

Okay. Saya melongo. Terhenyak dan sadar bahwa anak-anak Bali sekarang lebih fasih berbahasa Inggris ketimbang melestarikan bahasa ibu. Entah dampak modernisasi atau efek sinetron di televisi, hampir semua keluarga mengajak anak-anaknya menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Jadi ya jangan salahkan ketika anak-anak Bali saat ini kesulitan dan bahkan tidak bisa menggunakan bahasa daerahnya sendiri.

Selain bahasa Bali, saya jadi ingat lagi cerita seorang saudara di sanggah gede (pura keluarga besar), yang berprofesi sebagai penari Bali sempat bercerita sambil menunggu pemangku (pemimpin persembahyangan) selesai menghaturkan banten (sarana pemujaan).  Ia bercerita bagaimana murahnya upah penari yang diganjar oleh pihak hotel saat ini. Para penari tidak memiliki kekuatan dalam hak tawar (bargain power). Kelompok-kelompok penari ini hanya bisa mengkomersilkan diri mereka dalam industri pariwisata, jadi yang terjadi adalah perang harga antar sesama kelompok tari. Kalau pasang harga mahal, pihak hotel akan mencari kelompok tari yang pasang harga lebih murah. Seandainya bikin kongsi, koalisi, ataupun kartel agar harga terkatrol, akan selalu ada kelompok yang melanggar janji (cheating) dengan tujuan kejar setoran. Ya begitulah, konsekuensi yang harus mereka tanggung akibat bergantung pada industri pariwisata yang ujung-ujungnya pasti bermuara pada prinsip ekonomi. Kalaupun mau cari tambahan, ya paling saat mendapat mandat menari ketika upacara keagamaan, itupun disebut ngayah (membantu sukarela) dengan upah sekedarnya saja. Katanya: tidak enak minta lebih.

Mungkin dilema itu juga yang menjadi bahan pertimbangan anak-anak Bali saat ini tidak tertarik belajar menari Bali. Mereka lebih memilih belajar tarian ala barat semacam breakdance, menurut mereka lebih keren. Belum lagi ketertarikan pada gamelan Bali (musik tradisional Bali) juga semakin memudar. Selain karena lebih sulit dimainkan ketimbang alat musik modern, gamelan juga membutuhkan banyak orang untuk memainkannya. Bisa jadi, alasan itu yang membuat generasi muda Bali saat ini hilang ketertarikan belajar megambel dan lebih memilih hanyut menggoyangkan kepalanya mengikuti musik remix yang diputar saban sore di sebuah radio swasta sambil fitness membentuk badan mereka biar percaya diri ketika foto mereka nampang di baliho salah satu ormas, dekat lampu merah perempatan jalan.

Atau lihat saja subak sebagai sistem irigasi yang tempo hari sudah diresmikan menjadi warisan budaya UNESCO. Subak yang katanya membuat para turis mengagumi keindahan sawah selalu berhasil menjadi daya tarik terhadap kehidupan petani. Tapi apa kabar rekan-rekan di Tabanan yang sering kesulitan air setiap harinya? Ini bukan opini saya loh, tapi kata kawan-kawan saya (“kawan-kawan” itu jamak ya, artinya banyak) yang asli dari Tabanan dan berdomisili di Tabanan serta mengingat bahwa Tabanan merupakan “lumbung padi”nya Bali. Kata mereka air bersih di Tabanan diboyong ke daerah Bali Selatan (Denpasar & Badung) untuk memenuhi kuota air bersih akibat banyaknya hotel yang berdiri berebutan sebagai lambang kesombongan daerah vital pariwisata di Bali. Belum lagi vila-vila bodong yang semakin marak akibat “nomini agreement” sebagai sarana orang asing bisa menginvestasikan uangnya melalui orang-orang Bali murahan yang bisa dibeli dengan dolar, menambah tergerusnya lahan pertanian. Otomatis membuat subak semakin terhimpit dan terjepit. Meskipun petani menjerit, tapi siapa yang peduli? Ibu Bupati? Tidak satupun berita positif yang keluar dari bibir kawan-kawan asal Tabanan saya tentang yang terhormat dari dinasti keluarga Bupati ini. Belum lagi daerah-daerah lain yang sedang berlomba-lomba menjual tanah dan sawahnya untuk mengikuti gaya hidup dan mengangkat gengsi. Siap-siap saja nantinya pun subak hanya terbatas di daerah yang dilindungi pemerintah seperti Jatiluwih -  Tabanan dan Tegalalang – Gianyar. Barang langka akibat diperkosa pariwisata.

Tengok satu lagi keunikan yang hanya ada di Bali; ngaben (upacara pembakaran mayat di Bali)! Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ketika kebetulan sedang berada dirumah akibat libur panjang. Saat itu ada seorang warga di banjar yang meninggal. Ceritanya malam itu tempekan (kelompok yang lebih kecil dari banjar, biasanya terbagi atas teritori tempat tinggal) saya yang dapat giliran jaga (adat di Bali mewajibkan anggota banjar untuk berjaga setiap malam hingga upacara ngaben). Selesai mandi dan bersiap, saya mengeluarkan motor dan menutup pintu gerbang rumah. Pas melintas seorang kerabat keluarga yang serta merta kebingungan melihat saya sudah rapi dengan pakaian adat.
mau kemana De?
mau kerumah orang meninggal Pakde. Kan giliran tempekan kita jaga malam ini. Loh, Pakde jam berapa mau berangkat?
peh, ga usah kesana De
eh?! Koq ga usah?
itu bapak yang meninggal, waktu masih hidup ga pernah aktif menyama braya di banjar. Jadi ga usah kesana. Saudara-saudara kita yang laen juga ga ada yang datang koq

Mau tidak mau saya mundur teratur. Masuk dan mengembalikan motor kedalam rumah. Dalam hati saya bergumam: “sudahlah, orang sudah meninggal kenapa juga masih dipermasalahkan aktif atau tidaknya orang itu semasa hidup. Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkannya saat ini. Katanya menyama braya itu dalam suka dan duka”. Tapi apa daya, daripada disebut tidak mematuhi saran orang tua, ya lebih baik ikut serta saja. Tapi ini bukan kali pertama tentang warga banjar yang dipermasalahkan saat kematiannya. Mungkin masih segar dalam ingatan kita kasus-kasus tentang warga yang meninggal tapi tidak ada krama banjar yang mau untuk  memikul bade (tempat meletakkan dan mengarak mayat) sampai ke setra (kuburan). Atau malah sampai melarang warga yang meninggal dengan cara menutup akses jalan menuju setra. Upacara koq dihalangi?! Orang mau di-aben koq masih dipermasalahkan?!

Lalu benarkah orang Bali terkenal akan keramahtamahannya? Ramah terhadap orang luar, tapi tidak dengan sesama saudara sendiri. Entah karena jengah entah iri hati, yang pasti praktek leak (ilmu hitam) dan cetik (racun) masih marak akibat tidak mau kalah apabila melihat saudara sendiri memiliki kehidupan yang lebih maju dari dirinya sendiri. Sungguh kompetisi yang tak punya harga diri. Sementara itu, orang luar dan pendatang dihormati dengan toleransi tinggi hanya karena mereka seringkali melontarkan puja-puji tentang keistimewaan Bali dan keramahan orang Bali.




Kembali ke awal. Dimana saya masih tergeletak di pantai Sumawang – Sanur ditemani secangkir kopi dan seonggok jagung bakar buatan ibu pedagang asal tanah Jawa ditemani ingatan pembicaraan dengan bule dari Perancis, serta keinginan kawan-kawan saya di Jogja ataupun ibukota yang berminat untuk hidup di Bali. Satu benang merah yang saya tarik; orang Bali - yang mulai terkikis dengan budayanya sendiri, didesak persaingan ekonomi dengan pendatang, dan gempuran kesombongan bisnis pariwisata membuat satu pertanyaan klise muncul dikepala saya; Bali pun akan tetap menjadi Bali tanpa budaya dan orang Bali. Jadi, apalagi istimewanya Bali?





Friday, May 30, 2014

TRUST THE STRUGGLE



saya sedang terlilit hutang

Kalimat tersebut meluncur mulus dari bibir seorang kawan lama yang menghampiri saya siang tadi. Sekonyong otak yang masih loading karena baru bangun hasil dari begadang selama 2 malam berturut-turut dipaksa segera melakukan proses maintenance agar dapat fokus mendengarkan sisa cerita yang akan bersambung panjang siang ini.

Kawan saya ini baru saja pulang dari merantau setelah beberapa tahun mencicipi kehidupan di ibukota. Saya pernah tahu bahwa ia sudah mencapai posisi yang menyenangkan di perusahaan tempatnya bekerja dulu. Bukan berarti ia langsung menduduki posisi tersebut, tapi saya tahu betul bagaimana ia merangkak dari bawah dan berjuang dari nol menjadi apa yang akhirnya bisa ia nikmati.

Namun hidup berkata beda. Karena alasan keluarga, ia harus kembali pulang kerumah untuk memikul tanggung jawab sebagai seorang Bali yang dipenuhi kewajiban adat yang mengikat. Sebenarnya hal tersebut tidaklah menjadi beban, hanya saja penghasilan dan kesempatan berkarier di daerah tidak seterbuka lebar di ibukota. Yah, saya tahu betul itu.

Cerita kemudia berlanjut, tentang bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya menjadi seorang pengusaha. Semenjak jaman sekolah dulu kawan saya ini memang sudah memulai usaha kecil-kecilan. Seingat saya, ia pernah memiliki 4 usaha berbeda yang pada akhirnya berujung pada kegagalan. Tapi, dalam sudut pandang saya, itu hal yang wajar. Jatuh bangun, gagal dan sukses dalam bisnis adalah sebuah normalitas seiring dengan risiko didalamnya. Paling tidak, ia sudah mencicipi pahit manisnya proses, dan yang paling penting adalah ada pembelajaran yang bisa dipetik seiring pengalamannya menjadi wirausaha amatiran.

sempat saya terpikir untuk melamar pekerjaan lagi. Tapi beberapa perusahaan yang saya lamar sesuai dengan spesifikasi pekerjaan saya yang terdahulu tidak mau membayar saya selayaknya di ibukota. Padahal dengan beban yang harus saya tanggung sekarang, saya sangat membutuhkan minimal angka seperti sebelumnya. Belum lagi harus terjebak diantara jam kerja 8-4 yang seringkali berakhir menjadi 12 jam.” sambungnya dengan senyum yang menempel di bibirnya. Saya lanjut bertanya “beban itu maksudnya apa?”, “hutang” lanjutnya “ada hutang keluarga yang tidak saya ketahui, dan ternyata hutang itu sekarang sudah sangat besar diluar kemampuan financial bulanan saya”. Saya mengernyit. Agak bimbang untuk bertanya kenapa hutang itu bisa muncul, namun akhirnya ia melanjutkan cerita yang mulai menarik buat saya.

kamu pernah terpikir untuk menjadi wirausaha ndhu?” pertanyaan yang langsung saya sambar dengan tawa renyah “ya seringlah, bahkan saya selalu bermimpi menjadi pengusaha sukses yang kaya raya, bisa hidup santai, uang banyak, dan waktu bebas”. Tawa ringan akhirnya pecah diantara perbincangan penuh hawa negative sedari tadi. “betul, saya pun berpikir seperti itu” terangnya. “ada hal-hal yang terlihat sangat menyenangkan menjadi seorang pengusaha jika dilihat dari kacamata luar, tapi ternyata, tidak semua orang berbakat menjadi pengusaha, tau kenapa?”, saya berpikir sebentar, lalu berbisik pelan “modal usaha?”, ia mendekatkan mukanya kearah saya, senyumnya menghilang, “nyali..!!!” jawabnya mantap tanpa berkedip.

Otak kanan saya kembali mengais informasi sehubungan dengan kata kunci yang disebutnya tadi. Akhirnya muncul ingatan tentang satu film yang baru-baru ini saya tonton hasil rekomendasi salah seorang kawan saya yang bergerak dalam industri film. Sebuah film Thailand tahun 2011, judulnya: “Top Secret: The Billionaire”. Ceritanya sendiri merupakan adaptasi kisah nyata seorang anak keras kepala penuh nyali tinggi yang berusaha keras menjadi seorang pengusaha. Mungkin anda pernah tahu produk makanan ringan rumput laut bernama “Tao Kae Noi” yang saat ini mudah sekali kita jumpai di semua modern market. Saya ingat, cerita dalam film itu sedikit mirip dengan apa yang sedang dialami oleh kawan saya ini. Usahanya berkali-kali gagal, keluarganya terjerat hutang yang sangat tinggi, sampai-sampai rumahnya pun harus disita pihak bank. Disaat si pemeran utama sudah hampir menyerah dan memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah, disaat itulah nasib kemudian berputar kembali saat ia berhasil memproduksi produk “Tao Kae Noi” diantara keputusasaannya.

sudah hampir setahun ini tidur saya tidak pernah tenang” suara pelan kawan saya sontak membuyarkan lamunan saya. “ternyata hidup semakin sulit ketika kita beranjak dewasa ya?!” sambungnya. Saya tersenyum miris. “lalu apa langkahmu selanjutnya?” tanya saya. Ia merebahkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela nafas panjang dan menjawab “saya kemudian menyadari bahwa dalam hidup ada 2 kategori masalah. Yang pertama adalah masalah yang bisa kita kendalikan. Yang kedua adalah masalah yang tidak bisa kita kendalikan. Apabila kamu menghadapi yang pertama maka yang bisa kamu lakukan adalah mencari solusinya. Jadi tidak ada yang perlu dirisaukan. Lalu, apabila kamu menghadapi tipe yang kedua, karena diluar kendalimu, biasanya tidak akan ada solusi selain menunggu waktu yang akan membereskannya. Jadi, kategori manapun yang kamu hadapi, tidak ada gunanya untuk risau dan galau kan?!

Saya melongo. Entah saya yang goblok, atau kawan saya ini yang bodoh. Namun pemikiran sederhana tadi terdengar seperti petuah Gede Prama tentang keikhlasan dan berserah diri. “bukan berarti kita tidak lanjut berusaha, hanya saja buat apa kita hidup dalam kekhawatiran” sambungnya sambil menyalakan sebatang nikotin. “santai saja, tenang saja, jangan mengeluh, dan jalani sekuat kita bisa berusaha. Apabila kita sudah berusaha, pasti akan tetap ada jalan”. “tapi kalo jalannya buntu?!” tanya saya. “ahahaha, nah itulah pentingnya plan B”. lanjutnya sambil menghembuskan asap dari bibirnya.

...

Entah memang seperti itu atau tidak. Namun logika saya masih bertahan dengan opini bahwa terkadang hidup tidak memberikan kita pilihan sehingga tidak ada opsi tentang “Plan B”. Tapi terlepas dari semua itu, saya teringat dengan satu quote yang pernah saya lihat diantara koleksi gambar wanita berbikini di internet, bunyinya seperti ini: “when you are going through the hell; keep going..” –Winston Churchill-




Monday, February 10, 2014

BALI HARI INI DALAM BALUTAN DEMOKRASI

“No one pretends that democracy is perfect or all wise. Indeed, it has been said that democracy is the worst form of government except all those other forms that have been tried from time to time”
-Winston Churchill-

...

Tepat kemarin, baru saja mendarat dari ibukota, saya menurunkan kaki dari motor seorang kawan yang menjemput dari bandara. Belum lepas lelah setelah cerita dan perjalanan panjang, nafas saya kembali tertahan akibat menemukan bendera sebuah parpol berkibar besar menganga di tiang listrik tepat diatas pagar rumah. Sekonyong darah yang seharusnya turun setiba dirumah menjadi stagnant dalam kepala.

Bukan salam yang saya ucapkan ketika membuka pagar, namun hujatan emosi yang keluar seiring langkah kaki. Kabarnya seorang tetangga yang tidak tahu diri sudah memasang bendera itu tanpa ijin dari kami. Jika dilihat dari sudut marketing, lahan tempat bendera itu terpasang adalah lahan rumah kami, tentunya harus ada ijin, dan penawaran harga untuk pemasangan selama periode tertentu. Itupun jika kami ijinkan.

Ini dilema!

Kampanye-kampanye para calon legislatif tingkat daerah maupun yang menuju pusat ini lama-lama semakin tidak beretika. Sungguh semua sudut jalan dipenuhi dengan senyum cemerlang mereka dengan embel-embel gelar dibelakang nama yang entah didapat secara murni atau beli. Janji-janji manipulasi, program kerja yang penuh propaganda membuat saya yang pada awalnya meng-apresiasi, belakangan ini menjadi tidak lagi simpati.

Betapa tidak, Bali, tanah kelahiran dan kampung halaman saya, jika boleh jujur, tanah yang kata orang pulau dewata ini krisis pemimpin cerdas dan jujur yang punya nyali tinggi dan berani. Berganti dengan para jagoan ormas dan politikus prematur yang berteriak saat banyak, namun sepi saat sendiri. Ingin sekali mengusulkan dibuka forum diskusi, debat, dan berargumentasi tentang apa yang para calon wakil rakyat ini ketahui sejauh ini dan ide mereka membangun Bali sebelum terkontaminasi kembali dibalik gedung mewah nan megah tempat nantinya mereka memperjuangkan kepentingan yang berlabel “demi rakyat”.

Sudahlah, masih basah dalam ingatan betapa proyek reklamasi teluk Benoa yang diprotes masyarakat tidak berani secara tegas dihentikan oleh Gubernur yang pada Pemilukada kemarin terpilih (lagi) akibat menang tipis. Keputusan oleh pihak legislatif pun terkesan oper sana lempar sini. Pembukaan lahan membabi buta, hingga yang paling melacur: kampanye promosi untuk mengudang para investor terbuka lebar tanpa tersaring terbukti dari billboard yang dipasang diujung jalan keluar bandara.

Apa sebenarnya yang diperjuangkan? Dan siapa sebenarnya yang sedang berjuang?

Kata mereka demokrasi. Mari, saya bantu untuk membedah arti penerapan sistem demokrasi di Indonesia. Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan yang mana rakyat adalah pemegang kekuasaan penuh dalam proses menjalankan pemerintahan. Atau dalam bahasa kerennya: “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Artinya, rakyat memiliki hak, kesempatan, dan suara yang sama untuk ikut dalam mengatur kebijakan pemerintahan tanpa ada yang membeda-bedakan, termasuk didalamnya hak untuk dipilih dan memilih. Otomatis, hal mutlak dari sebuah keputusan dalam demokrasi adalah berdasarkan suara terbanyak.
Di satu sisi, faktor yang terkesan adil ini memiliki kelemahan terbesar, bahwa dalam aplikasi hak untuk dipilih, seseorang dapat mencalonkan dirinya. Mengambil satu dasar ilmu marketing, untuk bisa dipilih, dia harus menciptakan “brand awareness” untuk dirinya agar dikenal orang. Caranya: sosialisasi dalam bentuk mendadak jadi orang baik dengan memberikan sumbangan ataupun bantuan, membuat poster, flyer, baliho, sampai pasang billboard yang seringkali terpampang sembarang tanpa memperhatikan estetika tata kota. Pastinya hal ini butuh biaya. Pasti! Sekali lagi,  hampir semua aktivitas promosi dalam marketing membutuhkan biaya. Hanya saja, biaya ini oleh orang-orang marketing dikatakan sebagai “investasi”, bukan “biaya”. Nah, artinya apa, mayoritas untuk mencalonkan diri butuh modal. Modal untuk apa? Ya untuk promosi itu tadi. Sistem seperti inilah yang memberikan peluang besar bagi para pemilik modal berlebih ataupun yang nantinya ingin mendapatkan tambahan nilai balik modal setelah terpilih, memiliki kesempatan yang lebih besar untuk maju sebagai calon rakyat. Inilah yang saya sebut dalam istilah marketing tadi sebagai "investasi". Trik palsu, strategi tukang tipu. Saya tidak mengatakan semua caleg seperti itu, namun meski tidak semua, tapi hampir kebanyakan sama saja.

Sama seperti menjalankan sebuah perusahaan. Partai politik juga butuh modal operasional. Pastinya akan disupport melalui para calon yang maju melalui salah satu parpol sebagai kendaraan politiknya. Tapi sekali lagi saya katakan, ini dilema. Kenapa? Mengutip kalimat dari Winston Churchill: "demokrasi bukan sistem terbaik namun belum ada sistem politik yang lebih baik daripada demokrasi”. Seharusnya parpol adalah jembatan utama sebagai penyaring cikal bakal calon yang berpotensi dan memiliki prestasi sebagai bekal membenahi negeri. Menyeleksi bakat, bukan yang mengincar kedudukan dan martabat. Mencari orang handal, bukan yang asal dan abal-abal. Silahkan dibuka link ini yang berisi contoh betapa parpol tidak serius menyeleksi kadernya sebagai calon wakil rakyat.

Padahal negeri ini dibangun oleh para tokoh akademisi seperti Soekarno, Moh.Hatta, dan kawan-kawannya. Tapi kenapa periode ini praktik demokrasi seakan terbeli oleh janji-janji dan selipan komisi para politisi. Jadi terngiang lirik lagu “Suram Wajah Negeri”-nya Navicula: “ingin ku menggugat, tapi ku tak berdaya..


all picture in this post belong to: