Friday, May 30, 2014

TRUST THE STRUGGLE



saya sedang terlilit hutang

Kalimat tersebut meluncur mulus dari bibir seorang kawan lama yang menghampiri saya siang tadi. Sekonyong otak yang masih loading karena baru bangun hasil dari begadang selama 2 malam berturut-turut dipaksa segera melakukan proses maintenance agar dapat fokus mendengarkan sisa cerita yang akan bersambung panjang siang ini.

Kawan saya ini baru saja pulang dari merantau setelah beberapa tahun mencicipi kehidupan di ibukota. Saya pernah tahu bahwa ia sudah mencapai posisi yang menyenangkan di perusahaan tempatnya bekerja dulu. Bukan berarti ia langsung menduduki posisi tersebut, tapi saya tahu betul bagaimana ia merangkak dari bawah dan berjuang dari nol menjadi apa yang akhirnya bisa ia nikmati.

Namun hidup berkata beda. Karena alasan keluarga, ia harus kembali pulang kerumah untuk memikul tanggung jawab sebagai seorang Bali yang dipenuhi kewajiban adat yang mengikat. Sebenarnya hal tersebut tidaklah menjadi beban, hanya saja penghasilan dan kesempatan berkarier di daerah tidak seterbuka lebar di ibukota. Yah, saya tahu betul itu.

Cerita kemudia berlanjut, tentang bagaimana akhirnya ia memutuskan untuk mencoba peruntungannya menjadi seorang pengusaha. Semenjak jaman sekolah dulu kawan saya ini memang sudah memulai usaha kecil-kecilan. Seingat saya, ia pernah memiliki 4 usaha berbeda yang pada akhirnya berujung pada kegagalan. Tapi, dalam sudut pandang saya, itu hal yang wajar. Jatuh bangun, gagal dan sukses dalam bisnis adalah sebuah normalitas seiring dengan risiko didalamnya. Paling tidak, ia sudah mencicipi pahit manisnya proses, dan yang paling penting adalah ada pembelajaran yang bisa dipetik seiring pengalamannya menjadi wirausaha amatiran.

sempat saya terpikir untuk melamar pekerjaan lagi. Tapi beberapa perusahaan yang saya lamar sesuai dengan spesifikasi pekerjaan saya yang terdahulu tidak mau membayar saya selayaknya di ibukota. Padahal dengan beban yang harus saya tanggung sekarang, saya sangat membutuhkan minimal angka seperti sebelumnya. Belum lagi harus terjebak diantara jam kerja 8-4 yang seringkali berakhir menjadi 12 jam.” sambungnya dengan senyum yang menempel di bibirnya. Saya lanjut bertanya “beban itu maksudnya apa?”, “hutang” lanjutnya “ada hutang keluarga yang tidak saya ketahui, dan ternyata hutang itu sekarang sudah sangat besar diluar kemampuan financial bulanan saya”. Saya mengernyit. Agak bimbang untuk bertanya kenapa hutang itu bisa muncul, namun akhirnya ia melanjutkan cerita yang mulai menarik buat saya.

kamu pernah terpikir untuk menjadi wirausaha ndhu?” pertanyaan yang langsung saya sambar dengan tawa renyah “ya seringlah, bahkan saya selalu bermimpi menjadi pengusaha sukses yang kaya raya, bisa hidup santai, uang banyak, dan waktu bebas”. Tawa ringan akhirnya pecah diantara perbincangan penuh hawa negative sedari tadi. “betul, saya pun berpikir seperti itu” terangnya. “ada hal-hal yang terlihat sangat menyenangkan menjadi seorang pengusaha jika dilihat dari kacamata luar, tapi ternyata, tidak semua orang berbakat menjadi pengusaha, tau kenapa?”, saya berpikir sebentar, lalu berbisik pelan “modal usaha?”, ia mendekatkan mukanya kearah saya, senyumnya menghilang, “nyali..!!!” jawabnya mantap tanpa berkedip.

Otak kanan saya kembali mengais informasi sehubungan dengan kata kunci yang disebutnya tadi. Akhirnya muncul ingatan tentang satu film yang baru-baru ini saya tonton hasil rekomendasi salah seorang kawan saya yang bergerak dalam industri film. Sebuah film Thailand tahun 2011, judulnya: “Top Secret: The Billionaire”. Ceritanya sendiri merupakan adaptasi kisah nyata seorang anak keras kepala penuh nyali tinggi yang berusaha keras menjadi seorang pengusaha. Mungkin anda pernah tahu produk makanan ringan rumput laut bernama “Tao Kae Noi” yang saat ini mudah sekali kita jumpai di semua modern market. Saya ingat, cerita dalam film itu sedikit mirip dengan apa yang sedang dialami oleh kawan saya ini. Usahanya berkali-kali gagal, keluarganya terjerat hutang yang sangat tinggi, sampai-sampai rumahnya pun harus disita pihak bank. Disaat si pemeran utama sudah hampir menyerah dan memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah, disaat itulah nasib kemudian berputar kembali saat ia berhasil memproduksi produk “Tao Kae Noi” diantara keputusasaannya.

sudah hampir setahun ini tidur saya tidak pernah tenang” suara pelan kawan saya sontak membuyarkan lamunan saya. “ternyata hidup semakin sulit ketika kita beranjak dewasa ya?!” sambungnya. Saya tersenyum miris. “lalu apa langkahmu selanjutnya?” tanya saya. Ia merebahkan punggungnya ke sandaran kursi, menghela nafas panjang dan menjawab “saya kemudian menyadari bahwa dalam hidup ada 2 kategori masalah. Yang pertama adalah masalah yang bisa kita kendalikan. Yang kedua adalah masalah yang tidak bisa kita kendalikan. Apabila kamu menghadapi yang pertama maka yang bisa kamu lakukan adalah mencari solusinya. Jadi tidak ada yang perlu dirisaukan. Lalu, apabila kamu menghadapi tipe yang kedua, karena diluar kendalimu, biasanya tidak akan ada solusi selain menunggu waktu yang akan membereskannya. Jadi, kategori manapun yang kamu hadapi, tidak ada gunanya untuk risau dan galau kan?!

Saya melongo. Entah saya yang goblok, atau kawan saya ini yang bodoh. Namun pemikiran sederhana tadi terdengar seperti petuah Gede Prama tentang keikhlasan dan berserah diri. “bukan berarti kita tidak lanjut berusaha, hanya saja buat apa kita hidup dalam kekhawatiran” sambungnya sambil menyalakan sebatang nikotin. “santai saja, tenang saja, jangan mengeluh, dan jalani sekuat kita bisa berusaha. Apabila kita sudah berusaha, pasti akan tetap ada jalan”. “tapi kalo jalannya buntu?!” tanya saya. “ahahaha, nah itulah pentingnya plan B”. lanjutnya sambil menghembuskan asap dari bibirnya.

...

Entah memang seperti itu atau tidak. Namun logika saya masih bertahan dengan opini bahwa terkadang hidup tidak memberikan kita pilihan sehingga tidak ada opsi tentang “Plan B”. Tapi terlepas dari semua itu, saya teringat dengan satu quote yang pernah saya lihat diantara koleksi gambar wanita berbikini di internet, bunyinya seperti ini: “when you are going through the hell; keep going..” –Winston Churchill-