Friday, September 5, 2014

REWIND


“stop.., right there where you stand, can we start again and write this book just one more time. Gone are the days that we used to know, when I thought that they all would last forever, and I see what you mean, when it all falls apart, nothing really seems to make it better..
-Swirl 360-



Akhirnya bisa sekedar kembali menyepi ditengah deretan deadline tugas, tumpukan kerjaan yang tidak pernah terlihat ujungnya, serta target pembuktian harga diri. Semua seperti roda. Untungnya, masih ada waktu untuk sekedar keluar dari arusnya, dan mengintip sesekali apa saja yang sedang berputar didalamnya. Nyaris sama dengan minuman keras, terkadang aliran waktu membuat kita lupa pada apa yang sudah berlalu hingga saat jackpot, tersadar bahwa semua sudah terlambat. Nikmat, dan terlambat!

Berbicara tentang waktu, beberapa periode lalu, saya kehilangan seorang sahabat yang menghilang begitu saja. Sempurna tanpa bekas, tanpa jejak, dan tanpa bisa dilacak. Ada juga sahabat lainnya yang sedari lima tahun belakangan ini, dimana perjumpaan kami hanya sekali setahun, tiba-tiba muncul membawa berita akan menikah dan menetap ke negeri seberang, yang otomatis menciptakan sebuah tembok besar bagi kami untuk dapat mengulang hal-hal gila di masa muda.

Unik dan menarik. Betapa aliran waktu dapat mengubah segalanya. Meskipun seringkali kita berharap bahwa hal-hal yang menyenangkan tidak akan pernah berakhir, atau hal-hal yang buruk segera berlalu, diminta ataupun tidak, waktu akan jalan terus.

Saya pernah merasa kehilangan. Semua orang pasti pernah. Kehilangan sahabat, kehilangan kawan untuk bercerita, kehilangan tempat untuk pulang, kehilangan binatang peliharaan, ataupun kehilangan kesempatan. Namun sayangnya, sedikit dari kita yang bisa menyadari bahwa hari itu, detik itu adalah saat terakhir untuk selamanya. Saya pernah mengunjungi satu tempat, tempat dimana saya dan beberapa orang sahabat lainnya berjanji untuk kembali mengunjungi tempat itu satu hari nanti. Dan tanpa kami sadari, hari dimana kami membuat janji, adalah hari terakhir kami bisa berada disana secara bersama-sama. Kenapa? Karena mungkin kami tidak mengetahui bahwa waktu dapat mengubah segalanya. Waktu mengubah salah satu dari kami membangun keluarga, waktu mengubah banyak dari kami untuk sibuk bekerja, waktu mengubah hampir semua dari kami untuk berpacu melawan umur sementara impian dan cita-cita tentang kebebasan belum pernah terwujud dalam bentuk yang absolute.

Seandainya kami tahu, mungkin hari itu, waktu itu, detik itu, kami tidak akan pernah berhenti melingkarkan tangan ditengah megahnya api unggun. Mungkin kami akan lebih meneguhkan hati dan menyiapkan mental bahwa hari itu adalah hari terakhir kami bisa menikmatinya. Mungkin banyak dari kita yang saat ini beruntung menemukan orang-orang yang kita butuhkan masih ada disaat pagi datang. Mungkin hampir semua dari kita masih dengan sempurna melihat cahaya matahari dengan dua mata. Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir kita bisa menikmatinya? Mungkin besok, semua berubah tanpa pemberitahuan.

Saya sering menuntut, bahwa setiap kenangan bisa diulang, mencari pendukung disana-sini untuk membuktikan hipotesa yang saya anut dapat terwujud. Namun pada satu titik, propoganda tersebut terpatahkan dengan segumpal kecil kamus EYD. Disana, saya temukan secara harfiah kata Kenangan; artinya untuk dikenang. Jika bisa diulang, namanya; ulangan. Dan kabar buruknya, ulangan hanya kita temui pada saat jaman sekolah dulu, persis ketika ibu guru masuk dan mengumumkan hari ini ulangan untuk menguji dan mengulang kembali daya ingat kita.

...

Selagi masih ada waktu, lari dan temui semua kesempatan yang sudah terbuang. Kegagalan sebanyak lima kali, akan menuai kesuksesan pada tahap yang keenam. Yeah, risiko gagal pasti ada, paling tidak, akan kita ketahui setelah mencoba, daripada tidak mencoba sama sekali. Kita tidak pernah tahu, kapan saat terakhir kita untuk tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir, kesempatan ini adalah kesempatan terakhir, pertemuan ini adalah pertemuan terakhir. Dan bisa saja, ini adalah tulisan terakhir yang bisa saya tulis dalam blog ini, mungkin saja, dan bisa saja terjadi seperti itu. Tapi satu yang pasti, waktu dapat mengubah banyak hal.

Selamat bermain dengan waktu!


"we only got 86.400 seconds in a day to turn it all around or to throw it all away. We gotta tell them that we love them while we got the chance to say, gotta live like we dying..!"
-The Script-
 Jakarta, Juli 2011

YOU ARE YOUR HISTORY

click
Handphone di tangan kanan, saya tutup dengan satu tarikan nafas panjang. Bulan diatas sana seperti kembali membukakan kotak hitam tentang banyak ingatan tanpa jawaban. Jika menarik kembali cerita dari beberapa tahun yang lalu, saya terlihat seperti orang yang baru saja menemukan hobi baru: LARI..! Bukan olahraga, tapi hobi melarikan diri. Ketika menghadapi kematian, kekalahan, dan kesakitan, hal yang sanggup saya lakukan hanya lari, karena ketika dada kiri saya mulai meremas, kabel yang tersambung dari hati menuju otak secara spontan memberikan sinyal bahwa saya harus lari. Sebab dengan terus berlari, kemungkinan rasa sakit tidak akan pernah mengejar, mendekati, apalagi terus bersemayam dalam diri.

Seorang kerabat dulu pernah berkata; “temukan setiap jawaban dengan hati. Namun ketika hati tidak mampu, maka waktu pasti bisa..”. Berpegang pada hal tersebut, saya semakin menemukan bahwa orang-orang terdekat seringkali bukanlah wadah yang tepat untuk mencari jawaban. Umur berkorelasi positif dengan tumpukan masalah. Terima kasih, karena memang hidup mengajarkanmu bukan dengan kata-kata. Sepertinya memang begitu cara kerjanya.

Akhirnya, puas berpikir sendiri tanpa jawaban, saya memutuskan untuk kembali ke meja kerja, padahal waktu saat itu sudah berputar hampir mendekati pukul 22.30. Begitulah yang saya lakukan. Membenamkan diri pada tumpukan-tumpukan pekerjaan untuk mengalihkan ingatan-ingatan liar yang tidak pernah lelah berkeliaran dikepala. Namun, begitu hendak berbelok memasuki ruang kerja, muncul rekan kerja baru yang belum saya kenal lama. Seorang anak band, dan dimata saya, dia murni playboy tanpa tampang berdosa.

Dan disinilah kami, duduk berbasa yang sudah basi. Berdialog tentang hal-hal yang renyah. Sampai tiba-tiba dia berbicara tentang sesuatu yang membuat saya diam; “hal yang paling menyakitkan bukan karena kita ditinggalkan atau meninggalkan. Namun ketika tidak bisa bersatu..”, kemudian dia bercerita tentang sejarah berkali-kali hubungannya kandas hanya karena masalah perbedaan, yang menyebabkannya mulai kebal dan tidak terlalu berpikir serius untuk memulai sebuah hubungan. Jalani saja, katanya. Meskipun alur dialog sebelumnya tidak ada mengarah kesana, tapi saya berusaha berperan menjadi seorang pendengar yang baik. Yeah, hitung-hitung bisa jadi bahan cerita buat bikin film pendek hehe..

Pagi, keesokan harinya, kebetulan saat itu, saya sedang tugas event musik. Sembari memastikan bahwa semua materi promosi dan tenaga penjualan sudah berada pada posisinya masing-masing, saya dijulurkan segelas air mineral oleh seorang pimpinan, dan itu artinya, saya harus duduk disebelahnya. Dialog dan cerita pun dimulai. Dan sekali lagi, saya masih berperan sebagai seorang pendengar yang baik. Preambule dimulai dari bagaimana pimpinan saya itu memulai kariernya benar-benar dari seorang kuli dan pekerja serabutan. Ia tidak pintar, namun dia selalu menunjukkan bahwa ada satu nilai yang bisa dia jual; kepercayaan dan niat untuk bekerja. Di mata saya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa orang dengan penampilan bajingan seperti dia pernah memiliki jaman susah! Seorang yang idealis, begundal yang masih mempunyai nilai baik dalam hatinya. Yeah, paling tidak orang-orang seperti ini lebih berharga dibandingkan para pejabat negara yang memanfaatkan uang rakyat dengan segudang kepintarannya.



Hingga kesimpulan sementara, saya menemukan bahwa seorang manusia terbentuk karena sejarahnya. Okay, saya bukan orang dari ilmu psikologi, dan mungkin hal seperti ini sudah secara umum diketahui. Namun ada garis tebal yang sebenarnya dapat kita hubungkan, dimana karakter seseorang di masa ini, di saat ini, sebagian besar (atau malah keseluruhan) terbentuk dari pengalaman-pengalaman hidup yang mereka dapatkan sebelumnya. Bagaimana mereka memandang hidup, bagaimana cara mereka menjalani hidup, sampai pada pilihan-pilihan hidup yang mereka pilih. Terlepas pada persoalan apakah mereka bangkit atau malah terperosot semakin dalam. Itu bebas. Setiap orang punya gaya sendiri untuk menentukan hidupnya.

Tapi, satu hal terpenting yang saya dapati adalah, terkadang, Tuhan mengirimkan jawaban melalui orang-orang yang tidak kita duga, mungkin bukan keluarga kita, mungkin bukan sahabat kita, namun orang-orang yang tidak pernah masuk dalam “daftar orang kepercayaan” kita. Bisa jadi, itu sebabnya bumi tidak diciptakan kotak, untuk mengajarkan bahwa dunia bergerak tanpa batas, dan setiap manusia yang diciptakan pasti ada gunanya.

Bisa jadi seperti itu, atau bisa jadi kepala saya yang sudah semakin rusak akibat virus-virus ingatan hehe..

Jakarta,  2011