“click”Handphone di tangan kanan, saya tutup dengan satu tarikan nafas panjang. Bulan diatas sana seperti kembali membukakan kotak hitam tentang banyak ingatan tanpa jawaban. Jika menarik kembali cerita dari beberapa tahun yang lalu, saya terlihat seperti orang yang baru saja menemukan hobi baru: LARI..! Bukan olahraga, tapi hobi melarikan diri. Ketika menghadapi kematian, kekalahan, dan kesakitan, hal yang sanggup saya lakukan hanya lari, karena ketika dada kiri saya mulai meremas, kabel yang tersambung dari hati menuju otak secara spontan memberikan sinyal bahwa saya harus lari. Sebab dengan terus berlari, kemungkinan rasa sakit tidak akan pernah mengejar, mendekati, apalagi terus bersemayam dalam diri.
Seorang kerabat dulu pernah berkata; “temukan setiap jawaban dengan hati. Namun ketika hati tidak mampu, maka waktu pasti bisa..”. Berpegang pada hal tersebut, saya semakin menemukan bahwa orang-orang terdekat seringkali bukanlah wadah yang tepat untuk mencari jawaban. Umur berkorelasi positif dengan tumpukan masalah. Terima kasih, karena memang hidup mengajarkanmu bukan dengan kata-kata. Sepertinya memang begitu cara kerjanya.
Akhirnya, puas berpikir sendiri tanpa jawaban, saya memutuskan untuk kembali ke meja kerja, padahal waktu saat itu sudah berputar hampir mendekati pukul 22.30. Begitulah yang saya lakukan. Membenamkan diri pada tumpukan-tumpukan pekerjaan untuk mengalihkan ingatan-ingatan liar yang tidak pernah lelah berkeliaran dikepala. Namun, begitu hendak berbelok memasuki ruang kerja, muncul rekan kerja baru yang belum saya kenal lama. Seorang anak band, dan dimata saya, dia murni playboy tanpa tampang berdosa.
Dan disinilah kami, duduk berbasa yang sudah basi. Berdialog tentang hal-hal yang renyah. Sampai tiba-tiba dia berbicara tentang sesuatu yang membuat saya diam; “hal yang paling menyakitkan bukan karena kita ditinggalkan atau meninggalkan. Namun ketika tidak bisa bersatu..”, kemudian dia bercerita tentang sejarah berkali-kali hubungannya kandas hanya karena masalah perbedaan, yang menyebabkannya mulai kebal dan tidak terlalu berpikir serius untuk memulai sebuah hubungan. Jalani saja, katanya. Meskipun alur dialog sebelumnya tidak ada mengarah kesana, tapi saya berusaha berperan menjadi seorang pendengar yang baik. Yeah, hitung-hitung bisa jadi bahan cerita buat bikin film pendek hehe..
Pagi, keesokan harinya, kebetulan saat itu, saya sedang tugas event musik. Sembari memastikan bahwa semua materi promosi dan tenaga penjualan sudah berada pada posisinya masing-masing, saya dijulurkan segelas air mineral oleh seorang pimpinan, dan itu artinya, saya harus duduk disebelahnya. Dialog dan cerita pun dimulai. Dan sekali lagi, saya masih berperan sebagai seorang pendengar yang baik. Preambule dimulai dari bagaimana pimpinan saya itu memulai kariernya benar-benar dari seorang kuli dan pekerja serabutan. Ia tidak pintar, namun dia selalu menunjukkan bahwa ada satu nilai yang bisa dia jual; kepercayaan dan niat untuk bekerja. Di mata saya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa orang dengan penampilan bajingan seperti dia pernah memiliki jaman susah! Seorang yang idealis, begundal yang masih mempunyai nilai baik dalam hatinya. Yeah, paling tidak orang-orang seperti ini lebih berharga dibandingkan para pejabat negara yang memanfaatkan uang rakyat dengan segudang kepintarannya.
…
Hingga kesimpulan sementara, saya menemukan bahwa seorang manusia terbentuk karena sejarahnya. Okay, saya bukan orang dari ilmu psikologi, dan mungkin hal seperti ini sudah secara umum diketahui. Namun ada garis tebal yang sebenarnya dapat kita hubungkan, dimana karakter seseorang di masa ini, di saat ini, sebagian besar (atau malah keseluruhan) terbentuk dari pengalaman-pengalaman hidup yang mereka dapatkan sebelumnya. Bagaimana mereka memandang hidup, bagaimana cara mereka menjalani hidup, sampai pada pilihan-pilihan hidup yang mereka pilih. Terlepas pada persoalan apakah mereka bangkit atau malah terperosot semakin dalam. Itu bebas. Setiap orang punya gaya sendiri untuk menentukan hidupnya.
Tapi, satu hal terpenting yang saya dapati adalah, terkadang, Tuhan mengirimkan jawaban melalui orang-orang yang tidak kita duga, mungkin bukan keluarga kita, mungkin bukan sahabat kita, namun orang-orang yang tidak pernah masuk dalam “daftar orang kepercayaan” kita. Bisa jadi, itu sebabnya bumi tidak diciptakan kotak, untuk mengajarkan bahwa dunia bergerak tanpa batas, dan setiap manusia yang diciptakan pasti ada gunanya.
Bisa jadi seperti itu, atau bisa jadi kepala saya yang sudah semakin rusak akibat virus-virus ingatan hehe..
Jakarta, 2011
picture: www.painlasercenter.com
No comments:
Post a Comment