Beberapa sosok perempuan pernah,
dan ada dalam tahapan perjalanan saya. Bahkan sedari kecil, saya tumbuh dalam
lingkungan yang bernuansa perempuan. Saya lelaki satu-satunya yang bertahan hidup,
setidaknya sampai keponakan pertama saya lahir dengan batang dan sepasang telor
teruntai dibawah perutnya.
…
Sore tadi, sepulang dari prosesi ngaben
salah satu anggota keluarga, memastikan motor sudah dalam keadaan terkunci
dengan baik, seperti memunculkan ingatan tentang kehilangan kembali mencuat di
kepala. Mengantar langkah rendah menuju ruangan yang sudah kosong lebih dari
empat bulan. Nenek saya meninggal di akhir tahun lalu.
Kilas balik, belum lengkap
berumur tujuh, keluarga kami kembali berduka setelah enam tahun sebelumnya
kakek meninggal; bapak menyusul juga. Ingatan tentang para pejantan tersebut
tidak banyak yang tinggal. Praktis Ibu yang menghidupi saya dan kakak harus
banting tulang sambil bertahan dengan kesedihan. Kami dipaksa untuk mandiri
lebih cepat dari seharusnya.
Ada nenek disana.
Marahnya tak pernah membuncah. Biasanya
akan berakhir dengan ekspresi ngambek yang datar saja. Malah jadi lucu jika
diingat kembali. Adalah slogan hemat dan hidup irit menjadi khas dalam tiap
geraknya. Tak jarang kadang berakhir memalukan buat saya dan kakak khususnya
sewaktu tidak pada tempatnya itu diimpelemtasikan. Konkretnya semisal untuk
beberapa barang yang kami dapatkan berstatus bekas orang. Yang penting layak
pakai kata beliau. Bahkan untuk barang yang bukan termasuk mewah sekalipun.
Makanan? Jangan harap ada daging
empuk kalau bukan ibu yang menyediakan. Entah ini penghematan atau memang
pelit.
Tapi diluar itu semua, beliau
akan royal dalam diam. Tanpa bicara dengan sedikit kata, banyak hal-hal yang
meruntuhkan ego filosofi hidupnya untuk saya dan kakak dalam bentuk materi. Mirip
Paman Gober yang diam-diam membantu Donal Bebek dan para keponakannya saat
buntu. Percaya. Beliau orang baik terlepas apapun kata orang tentangnya!
…
Trenyuh ketika hati saya bimbang
di satu subuh untuk mengejar jadwal penerbangan. Ragu apakah pamit dan
membangunkan nenek yang masih pulas, atau berangkat saja, toh nanti bisa
dihubungi via telepon. Lagipula masih aman, seperti kata dokter yang baru saja
kami kunjungi beberapa hari sebelumnya. Surat rujukan laboratorium yang rutin
kami kunjungi juga sudah dikonfirmasi oleh staff yang akan datang kerumah. Tak perlu
repot pergi. Dan akhirnya logika saya lebih memilih memburu waktu menuju
pesawat terbang yang sudah menanti.
Sayangnya, takdir berkata beda. Jadwal
belum mengijinkan pulang, dan kabar mengantar beliau sedang berjuang terbaring
dengan berbagai alat penyokong nyawa. Apa yang salah pikir saya. Padahal seminggu
sebelumnya sudah saya pastikan bahwa semuanya bisa saya tinggal dengan aman. Dokter
pun memberi garansi bahwa kondisi nenek datar tanpa tanda lonjakan negative. Memberi
rasa nyaman bagi saya pergi dan menitipkan semua dengan sistematis ke semua
orang rumah.
Beliau berpulang tanpa
sempat kami bercakap seperti rutinitas biasanya. Penyesalan terbesar adalah
saya tak ada disana. Menyalahkan waktu yang seringkali datang tidak pada
waktunya, atau saya yang seringnya mengingkari dan tak mampu menangkap sinyal
waktu. Yang pasti, dan selalu dari dulu, kadang yang menyakitkan dari
perpisahan adalah kita tak pernah tahu bahwa waktu itu adalah waktu terakhir
dari sebuah waktu.
…
Ruangan ini sudah kosong lebih
dari empat bulan.
Meletakkan ingatan-ingatan tentang kami yang hanya mampu
menjadi untain cerita dengan mimpi tanpa isi.