Monday, May 11, 2020

Odah


Beberapa sosok perempuan pernah, dan ada dalam tahapan perjalanan saya. Bahkan sedari kecil, saya tumbuh dalam lingkungan yang bernuansa perempuan. Saya lelaki satu-satunya yang bertahan hidup, setidaknya sampai keponakan pertama saya lahir dengan batang dan sepasang telor teruntai dibawah perutnya.


Sore tadi, sepulang dari prosesi ngaben salah satu anggota keluarga, memastikan motor sudah dalam keadaan terkunci dengan baik, seperti memunculkan ingatan tentang kehilangan kembali mencuat di kepala. Mengantar langkah rendah menuju ruangan yang sudah kosong lebih dari empat bulan. Nenek saya meninggal di akhir tahun lalu.

Kilas balik, belum lengkap berumur tujuh, keluarga kami kembali berduka setelah enam tahun sebelumnya kakek meninggal; bapak menyusul juga. Ingatan tentang para pejantan tersebut tidak banyak yang tinggal. Praktis Ibu yang menghidupi saya dan kakak harus banting tulang sambil bertahan dengan kesedihan. Kami dipaksa untuk mandiri lebih cepat dari seharusnya.

Ada nenek disana.

Marahnya tak pernah membuncah. Biasanya akan berakhir dengan ekspresi ngambek yang datar saja. Malah jadi lucu jika diingat kembali. Adalah slogan hemat dan hidup irit menjadi khas dalam tiap geraknya. Tak jarang kadang berakhir memalukan buat saya dan kakak khususnya sewaktu tidak pada tempatnya itu diimpelemtasikan. Konkretnya semisal untuk beberapa barang yang kami dapatkan berstatus bekas orang. Yang penting layak pakai kata beliau. Bahkan untuk barang yang bukan termasuk mewah sekalipun.

Makanan? Jangan harap ada daging empuk kalau bukan ibu yang menyediakan. Entah ini penghematan atau memang pelit.

Tapi diluar itu semua, beliau akan royal dalam diam. Tanpa bicara dengan sedikit kata, banyak hal-hal yang meruntuhkan ego filosofi hidupnya untuk saya dan kakak dalam bentuk materi. Mirip Paman Gober yang diam-diam membantu Donal Bebek dan para keponakannya saat buntu. Percaya. Beliau orang baik terlepas apapun kata orang tentangnya!


Kembali masuk ke ruangan kosong yang sudah lebih dari empat bulan tanpa penghuninya. Tak ada lagi kursi roda, tape versi lama, dan kasur sederhana tempat kami biasa bertukar kata sembari membereskan bekas muntahan hasil dari lambung beliau yang tak lagi menerima asupan makanan. Kotak obat yang penuh dengan pil penambah darah, penguat tulang, penghilang nyeri, dan bermacam fungsi lainnya sudah raib entah dimana. Setiap detail tata letak benda masih erat dalam ingatan saya. Ada kursi merah sebelah tempat popok yang menjadi porsi duduk saya yang menunggu beliau berangkat terlelap atau bangun dari tidurnya. Biasanya ada meja plastik berwarna hijau tempat roti, susu, remote TV, HP, bel pemanggil, dan kombinasi antara jus apel dan pepaya mengapit tongkat berkaki tiga yang membantu beliau bangkit dan menegakkan badannya yang tak lagi tegak. Senyumnya sudah jarang terlihat ketika itu, pun ingatannya atas waktu antara matahari terbit atau bulan muncul sudah mulai samar. Peran saya disana. Membangun ingatan-ingatan beliau dan melempar berita tentang dunia. Membungkus dengan canda dan mimpi-mimpi akan kemana kita nantinya di hari dimana sehat akan datang memulihkan semuanya. Pantai, Pura, tempat makan, sampai angan-angan plesir keluar negeri. Tentu akan dicibir olehnya, tapi senang saja bahwa interaksi masih terjadi.

Trenyuh ketika hati saya bimbang di satu subuh untuk mengejar jadwal penerbangan. Ragu apakah pamit dan membangunkan nenek yang masih pulas, atau berangkat saja, toh nanti bisa dihubungi via telepon. Lagipula masih aman, seperti kata dokter yang baru saja kami kunjungi beberapa hari sebelumnya. Surat rujukan laboratorium yang rutin kami kunjungi juga sudah dikonfirmasi oleh staff yang akan datang kerumah. Tak perlu repot pergi. Dan akhirnya logika saya lebih memilih memburu waktu menuju pesawat terbang yang sudah menanti.

Sayangnya, takdir berkata beda. Jadwal belum mengijinkan pulang, dan kabar mengantar beliau sedang berjuang terbaring dengan berbagai alat penyokong nyawa. Apa yang salah pikir saya. Padahal seminggu sebelumnya sudah saya pastikan bahwa semuanya bisa saya tinggal dengan aman. Dokter pun memberi garansi bahwa kondisi nenek datar tanpa tanda lonjakan negative. Memberi rasa nyaman bagi saya pergi dan menitipkan semua dengan sistematis ke semua orang rumah.

Beliau berpulang tanpa sempat kami bercakap seperti rutinitas biasanya. Penyesalan terbesar adalah saya tak ada disana. Menyalahkan waktu yang seringkali datang tidak pada waktunya, atau saya yang seringnya mengingkari dan tak mampu menangkap sinyal waktu. Yang pasti, dan selalu dari dulu, kadang yang menyakitkan dari perpisahan adalah kita tak pernah tahu bahwa waktu itu adalah waktu terakhir dari sebuah waktu.


Ruangan ini sudah kosong lebih dari empat bulan. 
Meletakkan ingatan-ingatan tentang kami yang hanya mampu menjadi untain cerita dengan mimpi tanpa isi.