Tuesday, June 16, 2015

OPINI DIBALIK WARUNG KOPI

What do you want?"
"Just coffee. Black - like my soul.
― Cassandra Clare


Ibu jari saya masih sibuk menekan tombol keyboard di smartphone ketika satu pesan BBM masuk mengganggu perhatian saya yang ketika itu sedang mencari info warung makan mana yang perlu disinggahi malam minggu besok. BBM itu mengantar pesan promosi dari salah seorang kenalan yang baru saja membuka warung kopi dengan sajian banyak varian minuman kopi, serta suguhan berbagai  makanan ringan pengecap lidah.

Rampung menyimak pesan promosi, dentingan nada alert dibarengi ajakan mencicipi tempat nongkrong baru di bilangan Renon - Denpasar masuk via LINE oleh seorang kawan yang langsung saya iya-kan. Meskipun sebenarnya saya lebih memilih untuk berbaring di kamar ditemani wi-fi, camilan, dan lamunan jorok yang belum sempat saya selesaikan menjadi sebuah cerita seri.



Dan disinilah saya, bersama sepiring sphagetty carbonara, segelas besar es susu cincau yang namanya dirubah ala Eropa, dan secangkir kopi yang judulnya masih sulit diucapkan buat lidah saya. Kemudian, yang menyenangkan adalah tempat ini dilengkapi dengan “gelato” (bahasa Italy buat es krim kayanya), menu yang  menyasar para penyuka es krim sebagai dessert. Memperhatikan atmosfer sekeliling, desain yang terkesan kasar, retro, sedikit vintage, dan berantakan malah menciptakan gambaran yang sederhana tapi elegan. Saya menebak segmen pengunjung berkisar antara mahasiswa, pekerja, dan keluarga muda, alias pasangan yang baru menikah ataupun yang anaknya masih dibawah 5 tahun. Tampilan fashion pengunjung pun (kecuali saya – I love shirt, short pants, and sandal jepit) terkesan modis dan up to date dengan trend saat ini.

Menjamurnya tempat tongkrongan terasa mulai setahun belakangan ini. Mayoritas melabeli diri dengan “kopi”; warung kopi, kedai kopi, tempat ngopi, dan lainnya. Mungkin terinspirasi oleh buku “Filosofi Kopi”-nya Dee yang terbit hampir satu dekade lalu (2006), atau mungkin karena insomnia menjadi sebuah tren gaya hidup bagi banyak orang hehehe..

Di Bali sendiri, seingat saya, selalu ada tren baru yang muncul dan kemudian terseleksi dengan sendirinya. Sama seperti saat akhir era 90an dimana café tenda tumbuh dimana-mana, awal 2000an warnet bermunculan hingga dipelosok gang, disambung dengan beberapa usaha lainnya seperti gerai handphone, distro, hingga laundry yang sempat ramai. Mirip juga dengan demam batu akik yang sedang populer belakangan ini, semua jenis tren pasti mengalami product life cycle dan seleksi alam, dimana yang kuat akan bertahan, dan yang lemah akan berguguran secara perlahan.

Jika ditarik kembali kebelakang, trend nongkrong sendiri bukan barang baru di Bali. Jangankan di Bali, di Indonesia dan di dunia pun terjadi perihal yang sama. Kalo dulu, jaman saya masih sekolah, café tenda merupakan pilihan nongkrong dan menjadi gaya hidup anak muda. Nasi Djinggo juga menjadi primadona sebagai tempat tongkrongan favorit kala itu. Murah dan meriah! Sambal yang menampar, ditambah telor setengah matang campur garam dan merica menjadi menu wajib. Selain itu, emperan Circle K sempat menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda. Cukup dengan sebotol beer (kadang lebih) dan kacang serta camilan lainnya layak sudah menjelma sebagai trend setter tongkrongan dijaman itu. Sayangnya pemerintah saat ini mulai membatasi ruang gerak para penikmat beer akibat generasi instant anak-anak lebay yang juga menjamur bergaya sok dewasa mengkonsumsi yang belum pantas dikonsumsi oleh mereka.

Dan saat ini, berkembang tempat tongkrongan dengan label kedai kopi ataupun sejenisnya.

...

Kira-kira apa saja faktor pemicu munculnya tren baru ini? Hasil opini pribadi saya merangkum ada 5 faktor utama yang memicu pergerakan revolusi kopi ini, antara lain:

1.  Meningkatnya penghasilan generasi sebelumnya
Generasi yang saya ceritakan di paragraph sebelumnya, saat ini sudah bertransformasi menjadi generasi yang telah memilki penghasilan sendiri. Mereka sudah tamat dari bangku sekolah ataupun bangku kuliah. Mereka sudah menginjakkan kaki di kuadran yang berbeda. Pekerja, pengusaha, ataupun investor. Mereka sudah memiliki penghasilan yang lebih dari sebelumnya, jadi wajar kalo selera dan level konsumsi barang-nya pun meningkat. Hal ini senada dengan prinsip elastisitas harga dalam fungsi permintaan secara ekonomi

2.    Narsis-isme media sosial
Ada 1 quote yang pernah saya temukan di 9gag.com, saya tidak ingat secara pasti bunyinya, tapi kurang lebih intinya mengatakan bahwa 100 tahun lagi, generasi 90an adalah generasi terakhir yang pernah merasakan hidup tanpa internet, smartphone dan media sosial. Kalo dipikir-pikir bener juga, dulu gada orang yang perlu pamer dengan foto-foto narsisnya sebagai bentuk laporan sedang liburan disana-sini, sedang kuliner di tempat mahal, ataupun check in di setiap tempat. Tapi saat ini, semua itu kita lakukan. Motivasi setiap orang melakukan hal itu pasti berbeda-beda. Yah, tidak perlu saya bahas satu persatu, tapi paling tidak hal ini juga yang memicu bahwa eksistensi seseorang dan status sosialnya juga dipengaruhi oleh tempat nongkrong-nya, sekedar untuk mendapatkan "like" atau menambah follower ataupun cukup dengan rasa bangga karena berhasil menciptakan perasaan cemburu orang lain yang melihat.


3.    Trend pergeseran lifestyle
Gaya hidup saat ini sudah mulai bergeser, meskipun tidak sepenuhnya, tapi sebagian besar sedang mengarah dari mass entertainment menjadi private entertainment. Kalo dulu orang-orang lebih menyukai tempat hiburan secara massal, saat ini orang-orang mulai menyukai tempat yang menawarkan privasi. Konsumen di era ini saat ini lebih mengkotakkan diri. Mereka menyukai menikmati sesuatu hanya dengan kelompoknya (gank). Itu kenapa yang namanya arisan, karaoke, hingga private party lebih disukai ketimbang tempat hiburan umum. Orang-orang memilih tempat dimana mereka dapat melewatkan banyak waktunya hanya dengan gank-nya, begitu juga dengan pilihan tempat nongkrong. Meskipun pada kenyataannya, banyak gank yang ketika sudah berkumpul malah lebih asyik dengan smartphone-nya ketimbang ngobrol hehehe.. Pokoknya yang penting udah selfie bareng, posting di medsos, setelah itu, ya sudah..

4.    Virus ke”galau”an
Entah kenapa generasi saat ini sangat ingin beranjak dewasa secara instant. Buat saya pribadi, masa remaja saya dulu sangat saya nikmati hasil dari pengaruh lagu mendiang Chrisye; “tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah”. Instant-nisasi generasi muda sekarang menghasilkan virus ke”galau”an yang entah mengapa berhasil menjangkiti banyak sekali orang yang selalu merasa bahwa permasalahan yang mereka alami harus selalu di-blow up sedramatis mungkin. Hasilnya? Insomnia akut, curhat di berbagai media, dan keinginan untuk “melarikan diri”. Lanjutannya: tempat nongkrong menjadi salah satu tujuan keluar dari rumah, berkumpul bersama gank, serta mencurahkan segala ke”galau”an mereka. Saya pernah membaca bahwa virus galau ini akan semakin terasa ketika matahari tenggelam. Peluang yang secara sadar atau tidak yang sudah dicermati oleh para pengusaha kedai kopi saat ini yang menawarkan jam buka operasional sampai dini hari.

5.    Edukasi pasar
Saya sendiri bukan pecinta kopi. Saya hanya sebatas penikmat kopi. Tapi lama kelamaan karena tempat nongkrong kebanyakan adalah tempat yang menawarkan kopi, mau tidak mau, lidah saya mulai bisa untuk membedakan racikan kopi yang satu dengan lainnya. Meskipun awalnya para konsumen hanya coba-coba ikutan tren, namun lama-kelamaan mereka mulai diedukasi oleh pasar untuk bisa lebih dari sekedar peminum kopi. Kopi tidak lagi hanya menjadi obat begadang, tapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup saat ini. Meskipun hanya sebatas opini pribadi, namun saya beranggapan bahwa tren kopi akhirnya berhasil mengedukasi konsumennya untuk menjadi bagian dari kehidupan mereka. Sama halnya seperti awal makanan asing yang masuk, seperti hamburger, pizza, ataupun kebab. Mengapa bukan teh? Mungkin kopi dianggap memiliki level yang lebih “menyiksa” diatas teh.



Menilik opini tersebut, saya menyimpulkan bahwa trend adalah sesuatu yang akan selalu berputar (pastinya). Bagi para pemasar, menjadi hal yang penting untuk dapat menebak pergeseran gaya hidup konsumen sebagai bagian dari perilaku konsumen, dan bagi pelaku usaha merupakan hal penting untuk bisa memprediksi, bahkan menciptakan suatu trend yang menjadi acuan bagi konsumen seiring dengan hal-hal yang mempengaruhi kehidupan konsumen sehari-hari.


Dan tidak terasa, tulisan ini bisa saya selesaikan dengan bantuan 3 cangkir kopi. Semoga ada manfaatnya. Have a great day!

No comments:

Post a Comment