Tibalah saya disini. Di pantai Sumawang – Sanur yang berjarak hanya 15 menit dari kampung kelahiran saya, ditemani kopi hangat dan seonggok jagung bakar plus tidak ketinggalan lumpia ala pantai di Bali, menjadi pelengkap sembari memuaskan mata oleh birunya laut dan tanpa sengaja menjadi saksi karamnya satu kapal nelayan ditengah sana (sungguh angin di musim layangan ini jadi berbahaya karena bertiup kencang sekali) serta irama gulungan ombak yang menenangkan telinga ditengah sumpeknya pemandangan kemacetan yang mulai merajalela seputaran Denpasar.
Matahari masih tinggi diatas sana, maksud saya tepat diatas kepala yang artinya sedang siang terik. Tapi tidak terasa panas karena banyak sekali warung sederhana dibawah pohon-pohon besar perindang yang menjual jajanan berjejer di pinggir pantai sehingga membuat teduh. Suasana yang tenang. Paling tidak dapat sedikit menghilangkan penat dikepala secara temporer.
“jagungnya pake bumbu apa mas?”
“oh nggih, tyang pake bumbu pedes”
Setengah tertegun, saya menjawab pedagang jagung bakar tadi dengan bahasa Bali campur Indonesia. Apalagi yang membuat saya tertegun kalau bukan karena dipanggil “mas”, bukan “bli”?! Tapi saya pikir mungkin karena para pedagang disana terbiasa melayani tamu-tamu domestik, sehingga mereka rata-rata menggunakan panggilan “mas” bagi setiap konsumen domestik yang melancong kesana. Dan ternyata dugaan saya salah!
Sambil menyeruput kopi hangat, dan baru saja membuka halaman buku yang saya bawa, telinga saya tersentil dengan obrolan para pedagang yang sibuk adu argumen tentang jagoannya masing-masing di pesta demokrasi pemilihan presiden seminggu lagi. Dan bahasa pengantarnya adalah bahasa Jawa. Tentu saya mengerti dan tahu benar bahwa itu bahasa Jawa. Meskipun tidak fasih berbahasa Jawa, tapi pengalaman 5 tahun merantau di tanah Jawa cukup membuat telinga saya pintar mendengar dan mengartikan bahasa Jawa. Awalnya saya pikir semua pedagang disana orang asli Bali. Ternyata tidak. Ah, jangankan di Sanur, coba saja tengok di sepanjang Bedugul - Danau Beratan – Pura Ulun Danu, hampir semua pedagang bakso, jagung bakar, dan strawberry di pinggir jalan dan sekitar pasar adalah orang Jawa dan pendatang dari luar Bali.
Loh, ada yang salah? Oh tidak. Sama sekali tidak ada yang salah.Bali kan dari dulu memang dikenal dengan keramahtamahan penduduknya, apalagi Bali merupakan destinasi wisata yang sudah tersohor sejak jaman dulu di dunia. Bahkan konon kabarnya banyak orang asing yang lebih “aware” dengan nama Bali ketimbang Indonesia. Jadi ya wajar saja kalau Bali menjadi sebuah wadah bercampurnya manusia dari mana saja. Bahkan saking nyamannya tinggal di Bali, beberapa kawan saya yang dulu sempat sekantor di Ibukota maupun kawan main di Jogja yang sempat melancong ke Bali seringkali menyatakan niatnya untuk tinggal dan hidup di Bali. Kata mereka Bali itu luar biasa menyenangkan. Ya alamnya, ya hiburannya, ya orangnya. Tentu saja saya sebagai orang Bali, yang diproduksi, lahir, tumbuh, besar, dan tinggal di Bali menjadi besar kepala mendengarnya.
Tapi itu dulu. Kalau sekarang, saya malah miris mendengarnya..
…
Beberapa tahun yang lalu, saya harus mengambil cuti karena nenek saya meninggal. Di dalam pesawat dari ibukota menuju Denpasar saya duduk bersebelahan dengan seorang bule yang mengaku dari Paris – Perancis. Rambutnya sudah penuh uban, kerutan dan keriput juga menghiasi wajahnya menandakan bahwa ia sudah malang melintang dengan pengalaman hidupnya, tapi setelan jas hitam berpadu jeans biru yang dikenakan berhasil menyamarkannya menjadi sedikit terlihat bergaya muda.
“apa yang membawamu ke Bali, anak muda?”
“oh, nenek saya meninggal, jadi saya harus pulang untuk menghadiri upacara pemakaman beliau”
“kamu orang Bali?”
“iya pak, saya orang Bali. Kalau bapak ada acara apa ke Bali?”
“saya ada konferensi di Nusa Dua”
“oh, konferensi apa pak?”
“pembahasan kebijakan minyak antara beberapa negara penghasil dan pembeli minyak”
“wah, keren tuh.. Bapak sering ke Bali ya?”
“dulu iya.. dulu saya sering ke Bali. Terakhir tahun 1986”
“eh, udah lama banget donk pak. Koq jarang ke Bali lagi pak?”
“saya dulu suka Bali. Tapi sejak kunjungan yang terakhir, saya jadi benci Bali. Bali yang sekarang kotor, berantakan!”
Saya terdiam. Bukan karena setuju, hanya saja saya tidak punya gambaran seperti apa Bali di tahun 1986 dan tahun-tahun sebelumnya karena tahun-tahun itu ingatan saya sebagai seorang manusia belum sempurna menampung memori. Tidak ada stok ide untuk menimpali ataupun membela diri. Tapi tanpa menunggu lama, beliau melanjutkan lagi.
“kamu tahu kenapa kami, orang Eropa, suka ke Bali?”
“karena alamnya?”
“selain karena alamnya, kami suka ke Bali karena budaya dan orang Bali-nya. Coba kamu lihat Bali sekarang. Apa yang masih tersisa dari budaya dan orangnya? Kalian pikir kami ke Bali buat cari club? Diskotik? Kami ke Bali karena nilai unik yang hanya ada di Bali; budaya Bali dan orang Bali-nya sendiri sebagai objek wisata yang memang hanya ada di Bali.”
…
Tapi apa benar kata beliau? Apa benar orang Bali sudah kehilangan budaya dan orang Bali-nya?
Beberapa waktu lalu, salah seorang kawan minta bantuan untuk menggarap iklan sebuah instansi pemerintahan. Butuh talent anak SMP. Kebetulan saya punya sepupu yang duduk di kelas 1 SMP. Jadi langsung saja saya menghubunginya untuk mengatur jadwal shoting 2 hari lagi. Saat itu sedang masa ulangan umum, jadi adik saya akan segera mengabari lagi sekiranya jika bisa mengatur jadwal belajar. Keesokan harinya, kembali saya menghubunginya. Kurang lebih begini percakapan kami:
“gimana? Besok jadi bisa ikut bantu shoting iklan kan? Besok bli jemput sepulang sekolah”
“aduh, maap bli, ga jadi bisa. Soalnya harus belajar buat besoknya. Besoknya itu ulangannya susah”
“oh gitu, emangnya ulangan apa? Matematika?”
“engga’ bli, bahasa Bali”
Okay. Saya melongo. Terhenyak dan sadar bahwa anak-anak Bali sekarang lebih fasih berbahasa Inggris ketimbang melestarikan bahasa ibu. Entah dampak modernisasi atau efek sinetron di televisi, hampir semua keluarga mengajak anak-anaknya menggunakan bahasa Indonesia di rumah. Jadi ya jangan salahkan ketika anak-anak Bali saat ini kesulitan dan bahkan tidak bisa menggunakan bahasa daerahnya sendiri.
Selain bahasa Bali, saya jadi ingat lagi cerita seorang saudara di sanggah gede (pura keluarga besar), yang berprofesi sebagai penari Bali sempat bercerita sambil menunggu pemangku (pemimpin persembahyangan) selesai menghaturkan banten (sarana pemujaan). Ia bercerita bagaimana murahnya upah penari yang diganjar oleh pihak hotel saat ini. Para penari tidak memiliki kekuatan dalam hak tawar (bargain power). Kelompok-kelompok penari ini hanya bisa mengkomersilkan diri mereka dalam industri pariwisata, jadi yang terjadi adalah perang harga antar sesama kelompok tari. Kalau pasang harga mahal, pihak hotel akan mencari kelompok tari yang pasang harga lebih murah. Seandainya bikin kongsi, koalisi, ataupun kartel agar harga terkatrol, akan selalu ada kelompok yang melanggar janji (cheating) dengan tujuan kejar setoran. Ya begitulah, konsekuensi yang harus mereka tanggung akibat bergantung pada industri pariwisata yang ujung-ujungnya pasti bermuara pada prinsip ekonomi. Kalaupun mau cari tambahan, ya paling saat mendapat mandat menari ketika upacara keagamaan, itupun disebut ngayah (membantu sukarela) dengan upah sekedarnya saja. Katanya: tidak enak minta lebih.Mungkin dilema itu juga yang menjadi bahan pertimbangan anak-anak Bali saat ini tidak tertarik belajar menari Bali. Mereka lebih memilih belajar tarian ala barat semacam breakdance, menurut mereka lebih keren. Belum lagi ketertarikan pada gamelan Bali (musik tradisional Bali) juga semakin memudar. Selain karena lebih sulit dimainkan ketimbang alat musik modern, gamelan juga membutuhkan banyak orang untuk memainkannya. Bisa jadi, alasan itu yang membuat generasi muda Bali saat ini hilang ketertarikan belajar megambel dan lebih memilih hanyut menggoyangkan kepalanya mengikuti musik remix yang diputar saban sore di sebuah radio swasta sambil fitness membentuk badan mereka biar percaya diri ketika foto mereka nampang di baliho salah satu ormas, dekat lampu merah perempatan jalan.
Atau lihat saja subak sebagai sistem irigasi yang tempo hari sudah diresmikan menjadi warisan budaya UNESCO. Subak yang katanya membuat para turis mengagumi keindahan sawah selalu berhasil menjadi daya tarik terhadap kehidupan petani. Tapi apa kabar rekan-rekan di Tabanan yang sering kesulitan air setiap harinya? Ini bukan opini saya loh, tapi kata kawan-kawan saya (“kawan-kawan” itu jamak ya, artinya banyak) yang asli dari Tabanan dan berdomisili di Tabanan serta mengingat bahwa Tabanan merupakan “lumbung padi”nya Bali. Kata mereka air bersih di Tabanan diboyong ke daerah Bali Selatan (Denpasar & Badung) untuk memenuhi kuota air bersih akibat banyaknya hotel yang berdiri berebutan sebagai lambang kesombongan daerah vital pariwisata di Bali. Belum lagi vila-vila bodong yang semakin marak akibat “nomini agreement” sebagai sarana orang asing bisa menginvestasikan uangnya melalui orang-orang Bali murahan yang bisa dibeli dengan dolar, menambah tergerusnya lahan pertanian. Otomatis membuat subak semakin terhimpit dan terjepit. Meskipun petani menjerit, tapi siapa yang peduli? Ibu Bupati? Tidak satupun berita positif yang keluar dari bibir kawan-kawan asal Tabanan saya tentang yang terhormat dari dinasti keluarga Bupati ini. Belum lagi daerah-daerah lain yang sedang berlomba-lomba menjual tanah dan sawahnya untuk mengikuti gaya hidup dan mengangkat gengsi. Siap-siap saja nantinya pun subak hanya terbatas di daerah yang dilindungi pemerintah seperti Jatiluwih - Tabanan dan Tegalalang – Gianyar. Barang langka akibat diperkosa pariwisata.
Tengok satu lagi keunikan yang hanya ada di Bali; ngaben (upacara pembakaran mayat di Bali)! Saya jadi ingat beberapa tahun lalu ketika kebetulan sedang berada dirumah akibat libur panjang. Saat itu ada seorang warga di banjar yang meninggal. Ceritanya malam itu tempekan (kelompok yang lebih kecil dari banjar, biasanya terbagi atas teritori tempat tinggal) saya yang dapat giliran jaga (adat di Bali mewajibkan anggota banjar untuk berjaga setiap malam hingga upacara ngaben). Selesai mandi dan bersiap, saya mengeluarkan motor dan menutup pintu gerbang rumah. Pas melintas seorang kerabat keluarga yang serta merta kebingungan melihat saya sudah rapi dengan pakaian adat.
“mau kemana De?”
“mau kerumah orang meninggal Pakde. Kan giliran tempekan kita jaga malam ini. Loh, Pakde jam berapa mau berangkat?”
“peh, ga usah kesana De”
“eh?! Koq ga usah?”
“itu bapak yang meninggal, waktu masih hidup ga pernah aktif menyama braya di banjar. Jadi ga usah kesana. Saudara-saudara kita yang laen juga ga ada yang datang koq”
Mau tidak mau saya mundur teratur. Masuk dan mengembalikan motor kedalam rumah. Dalam hati saya bergumam: “sudahlah, orang sudah meninggal kenapa juga masih dipermasalahkan aktif atau tidaknya orang itu semasa hidup. Bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkannya saat ini. Katanya menyama braya itu dalam suka dan duka”. Tapi apa daya, daripada disebut tidak mematuhi saran orang tua, ya lebih baik ikut serta saja. Tapi ini bukan kali pertama tentang warga banjar yang dipermasalahkan saat kematiannya. Mungkin masih segar dalam ingatan kita kasus-kasus tentang warga yang meninggal tapi tidak ada krama banjar yang mau untuk memikul bade (tempat meletakkan dan mengarak mayat) sampai ke setra (kuburan). Atau malah sampai melarang warga yang meninggal dengan cara menutup akses jalan menuju setra. Upacara koq dihalangi?! Orang mau di-aben koq masih dipermasalahkan?!
Lalu benarkah orang Bali terkenal akan keramahtamahannya? Ramah terhadap orang luar, tapi tidak dengan sesama saudara sendiri. Entah karena jengah entah iri hati, yang pasti praktek leak (ilmu hitam) dan cetik (racun) masih marak akibat tidak mau kalah apabila melihat saudara sendiri memiliki kehidupan yang lebih maju dari dirinya sendiri. Sungguh kompetisi yang tak punya harga diri. Sementara itu, orang luar dan pendatang dihormati dengan toleransi tinggi hanya karena mereka seringkali melontarkan puja-puji tentang keistimewaan Bali dan keramahan orang Bali.
…
Kembali ke awal. Dimana saya masih tergeletak di pantai Sumawang – Sanur ditemani secangkir kopi dan seonggok jagung bakar buatan ibu pedagang asal tanah Jawa ditemani ingatan pembicaraan dengan bule dari Perancis, serta keinginan kawan-kawan saya di Jogja ataupun ibukota yang berminat untuk hidup di Bali. Satu benang merah yang saya tarik; orang Bali - yang mulai terkikis dengan budayanya sendiri, didesak persaingan ekonomi dengan pendatang, dan gempuran kesombongan bisnis pariwisata membuat satu pertanyaan klise muncul dikepala saya; Bali pun akan tetap menjadi Bali tanpa budaya dan orang Bali. Jadi, apalagi istimewanya Bali?
picture: http://potopotoiseng.blogspot.com

Artikelnya menginspirasi
ReplyDelete