"Money is numbers and numbers never end.
If it takes money to be happy, your search for happiness will never end."
-Robert Nesta Marley-
Bertemu kawan lama, tentunya menyisakan cerita. Apalagi karena lama tak bersua semenjak saya hengkang dari ibukota. Niatnya pengen diskusi tentang kerjaan, cuman berakhir dengan curcol berkepanjangan. Ndak masalah, karena begitu banyak hal terlewat jadi semacam proses upgrade berita.
Ada hal yang agak membuat terkesima setelah sekian banyak cerita yang mengalir dari bibirnya. ini tentang mengakhiri nyawa. Tentang hidup yang dihentikan secara paksa. Padahal saya tahu betul karakter kawan saya yang satu ini. Alhasil muncul perhelatan dan tanda tanya sembari menyerap bait demi bait kata-katanya. Logika saya masih belum percaya jika pernah terlintas dibenaknya untuk bunuh diri diantara jiwa petarungnya.
Kawan saya mungkin menyadari bahwa kernyitan diantara alis saya yang tak kunjung memudar. Dan ia memungkasnya dengan penjelasan sederhana: “gw tau Nduk, lu ga bakal percaya. Cuman pada akhirnya gw sadar ketika dulu gw sering mencibir berita-berita tentang orang yang bunuh diri, apaan sih, cemen banget! Tapi ketika lu ada di kondisi dimana semua masalah keliatan ga ada jalan keluar, dan ga ada seorang pun yang paham tentang yang apa lu hadepin, disitu lu bakal bener-bener ngerasa siap buat mengakhiri semuanya.”
...
Lompat ke hari ini.
Di tempat berbeda, semingguan kemaren, tentang kawan-kawan yang lain. Ada banyak cerita dan peristiwa yang mengalir begitu saja. Entah ada yang pernah mengalami ato tidak menyadari. Cuman belakangan ini, seringkali saya merasa rangkaian peristiwa seringkali menjadi benang merah atas sebuah pemikiran ataupun pembelajaran.
UUD. Ujung-ujungnya duit. Hampir semua permasalahan pasti berujung atas uang. Paling mudah adalah ketika berurusan dengan rumah sakit. Giliran sakit, harus opname, atau sakit berkepanjangan dan tiba-tiba punya jadwal kunjungan bertemu dokter melebihi jadwal ngopi bersama sahabat. Atau tentang kawan yang banyak berdiskusi rencana kelahiran si buah hati. Tentang resep obat, tentang cek lab, ataupun tentang seremonial adat.
Bank, koperasi, dan lembaga keuangan adalah salah satu jalan menuju penyelesaian masalah keuangan. Mereka eksis akibat perputaran uang yang tidak adil dalam masyarakat. Gaya hidup, tuntutan keluarga, sampai pencitraan diri untuk menghasilkan gambaran kehidupan ideal yang digembar-gemborkan para pendosa bernama marketer dan salesman melalui berbagai komunikasi pemasarannya di media-media yang menggoda mata dan telinga.
Benang merahnya?
Permasalahan cenderung lebih mudah diatasi ketika uang bergelimang. Paradigma keuangan kemudian diyakini sebagai solusi cepat mengatasi rintangan dan tantangan. Terjebak dalam keyakinan keuangan yang maha kuasa. Bagi mereka yang kekurangan, solusi mencari uang pada akhirnya berujung pada jebakan untuk menggali lebih dalam sumber-sumber keuangan yang dapat membantu mereka. Tanpa disadari, banyak dari kita menghabiskan waktu dan tenaga untuk ditukarkan dengan kebahagiaan semu yang terbeli akibat uang yang dimiliki.
Apa salahnya?
Mental dan manajemen! Rumus keuangan sebagai alat pemecah masalah akan membuat kita merasa nyaman dan aman ketika kantong penuh, tabungan terisi, dan dompet bernafas normal. Kondisi ekonomi saat ini, yang benar-benar terasa dari mulai krismon 1998, disambung bom bali 1 di tahun 2002, masih terseok untuk recovery, sudah dihajar lagi dengan bom Bali 2, tahun 2005, dan pada akhirnya lonjakan property di Bali yang tak bernyawa lagi semenjak 2014 menjadi penutup bahwa kondisi ekonomi terserang asma dan kanker paru-paru.Entah inflasi yang tinggi, atau para koruptor yang sedang membatasi diri dalam upaya money laundry, berhasil menciptakan rasa gerah untuk menyembah uang. Tali kendali ini bergelora kencang. Ekonomi tak lagi bergairah. Sulitnya menghasilkan uang, namun sangat mudah untuk menghabiskannya untuk kebutuhan sehari-hari saja yang seringkali tidak mencukupi bagi banyak orang. Depresi akibat permasalahan yang muncul semakin terpicu akibat alat bantu solusi berupa uang tidak muncul dengan jumlah setara dengan beban yang dihadapi. Ini adalah masalah!
Sementara jemari saya menulis, masih suara almarhum Chester Bennington menghiasi telinga saya dengan lirik Heavy-nya:
“I don't like my mind right now
Stacking up problems that are so unnecessary
Wish that I could slow things down
I wanna let go but there's comfort in the panic
And I drive myself crazy
Thinking everything's about me
Yeah I drive myself crazy
'Cause I can't escape the gravity
I'm holding on
Why is everything so heavy?
Holding on
To so much more than I can carry
I keep dragging around what's bringing me down
If I just let go, I'd be set free
Holding on
Why is everything so heavy?”
…
Guys, sometimes life’s fucking hard. You may say that life isn’t fair. I know, I am fully understand. No worries, there’s no such thing called fair in this world. But don’t you ever think about suicide, or hurting yourself. That’s not the way how to make things done! Jalan terus kawan, selalu ada titik anti-klimaks untuk sebuah masalah. Percaya aja bahwa kita ibarat sedang diperkosa. Kalo ndak bisa dilawan, dilemesin aja. Meski susah, satu hari nanti akan jadi sebuah prasasti untuk bahan cerita. Rejeki udah ada yang ngatur (katanya). All you need to do is just keep goin’! Jangan lupa bahagia..! That’s all..
No comments:
Post a Comment