Sunday, January 20, 2019

BIRU



I'd rather see the ocean once in a lifetime
And miss it for the rest of my days
Than never feel the sand beneath my naked feet
And never hear the sound of breaking waves

I always remember
Always remember
I'll always miss you
Always miss…
(Ocean – Native)


Saya pecinta laut. Ini satu hal yang tidak perlu diragukan lagi. Biarpun berenang bukan keahlian saya, bahkan saya selalu gagal untuk bisa berenang meskipun berkali-kali mencoba menuntut ilmu agar mampu, tapi selalu saja ingatan tentang pengalaman tenggelam masih belum bisa disamarkan dari alam bawah sadar saya. Satu kutipan dari film klasik Superman; “berani bukanlah tentang tidak memiliki rasa takut, tapi tentang upaya untuk menghadapinya”. Sepenuh hati saya selalu mencoba memberanikan diri, tapi selalu gagal. Kutipan yang klise mungkin buat kepala seorang saya.

Terlepas dari itu semua, saya tetap seorang pengagum rahasia, melihat laut dari tepi tanpa menyetubuhinya. Setiap kali duduk dipinggir pantai, saya selalu berkhayal betapa misteriusnya biru laut yang menyimpan kedalaman yang mungkin belum terpecahkkan oleh sains saat ini. Atau setiap kali turbulence ketika berada diantara kencangnya sabuk pengaman pesawat, saya selalu membayangkan bahwa hidup saya sebentar lagi akan berakhir akibat ketidakmampuan sayap pesawat memberontak pada gumpalan awan yang membenturnya. Mungkin hidup saya, bisa jadi akan berakhir diantara momen tersebut, dan berujung pada tenggelam di laut. Selalu bergidik untuk memikirkannya diantara doa pasrah yang biasanya akan terhenti karena ketakutan yang menguasai otak saya. Hanya saja, siapa sangka bahwa tenangnya laut bisa menjadi kuburan bagi banyak mahluk bernyawa.

Lautan dengan kesunyiannya, dan langit dengan terangnya. Ini juga hal yang menyenangkan setiap kali memandangi lautan lepas. Saya teringat dengan satu album music fushion yang berjudul “when the sea touch the sky”. Hamparan biru laut yang menyambung ditengah sana dengan ujung langit. Seperti mangkuk berwarna biru. Mereka tidak sama, bahkan tidak pernah bersentuhan. Di satu titik, jauh diujung tengah, seperti kesatuan. Seperti sebuah rasa, yang meski tidak pernah terucap, namun bentuknya nyata.

Diantara mereka, ada satu hal yang paling menarik untuk ditunggu. Apalagi kalau bukan munculnya warna jingga sunset yang seperti menganggu, tapi nyatanya menjadi puncak seru dari penutup hari bernuansa sendu. Ini hanya mengingatkan bahwa hal yang sesempurna itu berlangsung tidak lama. Saya hafal, di kampung halaman saya, matahari tenggelam hanya berlangsung selama 10 sampai dengan 15 menit. Berkisar antara pukul 18.00 sampai dengan 18.15. kalau beruntung, bulatnya bisa sesempurna bola mata, jika lagi sial, biasanya awan pastinya akan sukarela buat menyembunyikannya. Ada rasa asik untuk menunggu momen ini. Biarpun saya bukan tipikal orang yang suka menunggu, terkadang alam menyajikan pembelajaran bahwa tidak semua hal yang kita inginkan bisa terjawab dengan sempurna di akhir cerita perjuangan. Tapi ini bukan masalah itu. Ini adalah tentang kelayakan untuk dapat menikmati sebuah hal yang menjadi sebuah
tahapan didalamnya.

Ah, momen biru itu selalu membuat saya rindu.

No comments:

Post a Comment