I'd rather see the ocean once in a
lifetime
And miss it for the rest of my days
Than never feel the sand beneath my naked feet
And never hear the sound of breaking waves
And miss it for the rest of my days
Than never feel the sand beneath my naked feet
And never hear the sound of breaking waves
I always remember
Always remember
I'll always miss you
Always miss…
Always remember
I'll always miss you
Always miss…
(Ocean – Native)
…
Saya pecinta laut. Ini satu hal yang tidak perlu
diragukan lagi. Biarpun berenang bukan keahlian saya, bahkan saya selalu gagal
untuk bisa berenang meskipun berkali-kali mencoba menuntut ilmu agar mampu,
tapi selalu saja ingatan tentang pengalaman tenggelam masih belum bisa
disamarkan dari alam bawah sadar saya. Satu kutipan dari film klasik Superman; “berani
bukanlah tentang tidak memiliki rasa takut, tapi tentang upaya untuk
menghadapinya”. Sepenuh hati saya selalu mencoba memberanikan diri, tapi selalu
gagal. Kutipan yang klise mungkin buat kepala seorang saya.
Terlepas dari itu semua, saya tetap seorang pengagum rahasia, melihat laut dari tepi tanpa menyetubuhinya. Setiap
kali duduk dipinggir pantai, saya selalu berkhayal betapa misteriusnya biru
laut yang menyimpan kedalaman yang mungkin belum terpecahkkan oleh sains saat
ini. Atau setiap kali turbulence ketika berada diantara kencangnya sabuk
pengaman pesawat, saya selalu membayangkan bahwa hidup saya sebentar lagi akan
berakhir akibat ketidakmampuan sayap pesawat memberontak pada gumpalan awan
yang membenturnya. Mungkin hidup saya, bisa jadi akan berakhir diantara momen
tersebut, dan berujung pada tenggelam di laut. Selalu bergidik untuk
memikirkannya diantara doa pasrah yang biasanya akan terhenti karena ketakutan yang menguasai
otak saya. Hanya saja, siapa sangka bahwa tenangnya laut bisa menjadi kuburan
bagi banyak mahluk bernyawa.
Lautan dengan kesunyiannya, dan langit dengan terangnya. Ini
juga hal yang menyenangkan setiap kali memandangi lautan lepas. Saya teringat
dengan satu album music fushion yang berjudul “when the sea touch the sky”. Hamparan
biru laut yang menyambung ditengah sana dengan ujung langit. Seperti mangkuk
berwarna biru. Mereka tidak sama, bahkan tidak pernah bersentuhan. Di satu
titik, jauh diujung tengah, seperti kesatuan. Seperti sebuah rasa, yang meski
tidak pernah terucap, namun bentuknya nyata.
Diantara mereka, ada satu hal yang paling menarik untuk
ditunggu. Apalagi kalau bukan munculnya warna jingga sunset yang seperti
menganggu, tapi nyatanya menjadi puncak seru dari penutup hari bernuansa sendu.
Ini hanya mengingatkan bahwa hal yang sesempurna itu berlangsung tidak lama. Saya
hafal, di kampung halaman saya, matahari tenggelam hanya
berlangsung selama 10 sampai dengan 15 menit. Berkisar antara pukul 18.00
sampai dengan 18.15. kalau beruntung, bulatnya bisa sesempurna bola mata, jika
lagi sial, biasanya awan pastinya akan sukarela buat menyembunyikannya. Ada rasa
asik untuk menunggu momen ini. Biarpun saya bukan tipikal orang yang suka
menunggu, terkadang alam menyajikan pembelajaran bahwa tidak semua hal yang
kita inginkan bisa terjawab dengan sempurna di akhir cerita perjuangan. Tapi ini
bukan masalah itu. Ini adalah tentang kelayakan untuk dapat menikmati sebuah hal
yang menjadi sebuah
tahapan didalamnya.
Ah, momen biru itu selalu membuat saya rindu.
No comments:
Post a Comment